Oleh Rizal Shidiq
Dua hari lalu, saya mampir ke toko vinyl sialan langganan saya. Waktu saya sempit, lima belas menit, karena sebelumnya Sisil telpon mengingatkan untuk membeli telur, sereal, tempe, dan sebangsanya di toko sebelahnya. Saya pikir, ah, mampir ke toko semprul dulu, lihat-lihat sebentar, nanti setengah jam sebelum tutup, baru belanja keperluan sehari-hari.
Hanya dalam lima belas menit itu, saya dengan sukses membawa pulang empat album jazz: Album debut Herbie Hancock, Takin’ Off, Miles Davis Miles Ahead, Thelonius Monk The Thelonius Monk Orchestra at Town Hall, dan Bill Evans dan Jim Hall Undercurrent. Semula saya hanya akan membeli tiga yang pertama, sebab saya sudah punya versi CD album yang keempat yang dibeli Sisil di NSJF. Tapi si penjaga toko, waktu saya bilang akan beli Undercurrent belakangan, mengangkat alis dan berkata, “Man, to me that record is better than any of these three.”
Walhasil, album itu sukses masuk bungkus. Barangkali saya dikibuli, tapi saya rasa ia benar: Mendengarkannya kembali salah satu album favorit saya ini dalam versi vinyl, sembari minum teh panas, memang terasa lain. Walaupun ketiga album lainnya sebenarnya termasuk kategori masterpiece dan –kalau saya punya waktu– layak untuk diulas di sini, Undercurrent, bahasa Inggrisnya, stands out dan termasuk sangat underrated.

Adalah suatu kebetulan ketika untuk pertama kalinya saya mendengar lagu-lagu karya Vampire Weekend lebih dari enam bulan lalu, saya juga baru saja mendapatkan album piringan hitam Graceland karya Paul Simon yang terkenal itu. Musik folk Afrika yang bertaburan dalam album Graceland itu juga mempengaruhi musik Vampire Weekend. Tidak mengherankan apabila banyak orang yang seketika membandingkan album perdana self-titled Vampire Weekend dengan album Graceland yang berjarak lebih dari 20 tahun.
