Archive for August, 2008

Throwing Copper si Penggugah Semangat Usia Duapuluhan

Posted in rock on August 31, 2008 by philipsvermonte

Oleh Rizal Shidiq

Hujan pagi ini mengingatkan saya pada suasana di tempat kos saya di Depok, pertengahan tahun 90an. Masa itu, udara dingin seperti ini sangat tidak kondusif bagi mahasiswa pemalas seperti saya untuk berangkat kuliah jam delapan pagi.

Untuk memompa adrenalin di pagi hari, musik rock jadi penting –juga kopi Kapal Api. Salah satu musik yang sering berkumandang di tempat kos saya waktu itu adalah album kelompok musik Live, Throwing Copper.

Imam, teman satu kos saya, anak Boedoet asal Kramat Sentiong yang kuliah di jurusan teknik metalurgi, adalah orang yang memperkenalkan saya pada album ini. Kasetnya waktu itu mondar mandir di beberapa mini compo di tempat kos kami. Boro-boro turntable atau CD player, saat itu mini compo kami saja hanya yang versi murah –itu pun, tega-teganya, masih dicolong maling juga. Kaset juga hanya sebiji dipakai satu kos. Tentu saja kami tidak menyebutnya sebagai hambatan finansial, tidak punya duit, tetapi, dengan bangga, manifestasi sosialisme dalam kehidupan nyata.

Read more »

Inspirasi Revolusi dari Velvet Underground & Nico

Posted in RS500, rock, velvet underground on August 28, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Kalau ada album musik yang bisa melahirkan revolusi dalam arti yang sebenarnya, saya pikir hanya album pertama kelompok asal New York the Velvet Underground, Velvet Underground & Nico (pertama kali dirilis tahun 1967). Ada alasan yang jelas kenapa revolusi tahun 1990 di Cekoslovakia dinamai Revolusi Beludru (the Velvet Revolution). Alasannya ya karena pemimpin gerakan anti-komunis tersebut Vaclav Havel, seorang sastrawan mumpuni yang kemudian menjadi presiden pasca-revolusi, adalah penggemar berat VU. Dia bahkan berteman baik dengan dedengkot VU Lou Reed. Dan kalau itu tidak cukup untuk membuktikan hubungan antara revolusi beludru dengan rock and roll, anda akan terkejut kalau mengetahui bahwa Havel mengangkat Frank Zappa, pemimpin band gila the Mothers of Invention sebagai konsultan perdagangan dan budaya bagi Negara Eropa tengah ini (begini jadinya kalo sastrawan jadi presiden).

Read more »

Tentang Arctic Monkeys dan Paradoks Musik Indie Pada Umumnya

Posted in alternative, indie on August 28, 2008 by philipsvermonte

Oleh Rizal Shidiq

Kuliah, sebagaimana semua mahasiswa tahu, tidak selalu identik dengan ‘asyik’. Dan membuat mahasiswa nyambung dengan orang yang mengaku sebagai dosen yang berdiri dan bicara terus di depan kelas bukan perkara mudah. Apalagi di Depok yang panas. Ditambah lagi ada yang namanya perbedaan tanggal lahir yang, ya, lumayan juga.

Untung ada Arctic Monkeys. Sebelum bicara tentang ekonomi Keynesian, yang sama-sama datang dari Inggris Raya sana, tidak ada salahnya bicara tentang band Arctic Monkeys sebagai jurus pembuka yang bisa mencairkan soal perbedaan tanggal lahir dan anggapan di kalangan mahasiswa bahwa yang namanya dosen/ekonom (sama sekali) tidak tahu musik jaman sekarang.

Saya ingat perdebatan saya dengan beberapa mahasiswa itu tentang mana lagu yang lebih bagus dalam album Arctic Monkeys berjudul Whatever People Say I am, That’s What I’m Not (2006):I Bet You Look Good on the Dancefloor” (saya), atauMardy Bum” (mereka)?

Read more »

Never Mind the Bollocks: Mahakarya Punk Sebenarnya

Posted in RS500, punk on August 27, 2008 by philipsvermonte

Pada banyak hal saya sependapat dengan kawan saya Taufiq. Tapi tentu ada beberapa perbedaan pendapat dengannya. Salah satunya adalah mengenai album apa yang merupakan mahakarya musik punk? Tempo hari Taufiq menulis bahwa baginya Marquee Moon (1977) dari Television, grup asal Amerika, adalah karya musik punk terbaik. Album Marquee Moon memang album dahsyat, tetapi buat saya album Never Mind the Bollocks, Here’s the Sex Pistols milik grup the Sex Pistols adalah mahakarya musik punk yang sebenarnya. Namun ketika itu saya tidak bisa menulis mengenai Sex Pistols karena belum mendapat piringan hitamnya (sekedar friendly reminder: blog ini tentang perburuan piringan hitam, sebuah album baru bisa ditulis kalau kami sudah memiliki piringan hitamnya).

Akhir pekan minggu lalu, pucuk di cinta ulam tiba. Saya akhirnya mendapat piringan hitam album Never Mind the Bollocks di sebuah toko vinyl di Rockford, kota tetangga tempat saya belajar ini. Bukan hanya album Sex Pistols ini, saya juga menemukan dua buah toko vinyl yang menarik. Akhir minggu lalu kami pergi ke Rockford, ke Asian grocery. Biasa, istri saya ingin belanja bahan makanan Indonesia persiapan bulan puasa. Tak disangka kami melihat dua toko vinyl dekat toko Asian grocery itu. Setelah belanja, mampirlah kami ke situ.

Toko yang satu memiliki neon sign gahar: B.T.A records – punk, metal, underground. Begitu saya buka pintu tokonya, aroma punk dan underground begitu terasa. Toko ini lebih mirip gudang. Ada sofa kotor tergeletak di pinggir, skateboard diletakkan sembarangan, dan ada genangan air cukup besar yang dibiarkan di tengah ruangan, bocoran dari atap akibat hujan deras malamnya. Di tembok banyak coretan graffiti, botol kosong berserakan di lantai. Musik punk terdengar keras melalui loudspeaker.

Read more »

Guest Blogger Baru

Posted in misc on August 26, 2008 by philipsvermonte

Blog sontoloyo ini mendapat guest blogger baru, Rizal Shidiq. Rizal adalah salah satu pengelola blog Cafe Salemba ( http://cafesalemba.blogspot.com/) yang legit itu. Rizal sedang studi doktoral bidang ekonomi di George Mason University di Washington DC. Blog ini akan makin ramai dengan ragam musik, karena Rizal adalah penyuka musik jazz sejak lama (dan punk serta rock and roll tentunya). Beginilah, kami menemukan ‘pelarian’ sejenak dari buku dan tugas kuliah di musik dan piringan hitam. Profil lengkap kawan kita yang satu ini bisa dilihat dibagian “Tentang Para Penulis”.

Welcome on board!

Indie & mainstream: The bad, the ugly and the good

Posted in misc on August 26, 2008 by philipsvermonte

Taufiq menemukan tulisan lamanya tentang review music scene di Indonesia tahun 2006 yang dia tulis untuk harian tempatnya bekerja, The Jakarta Post. Ketika tulisan ini dimuat dulu, Taufiq menerima banyak komentar, manis dan pahit. Sekarang kami memutuskan untuk meng-uploadnya di blog ini. Kami ingin ikut berkontribusi, walaupun sedikit, bagi pembentukan narasi lekuk-liku musik Indonesia.

pjv
—-

http://old.thejakartapost.com/review/feat02.asp

M. Taufiqurrahman

There’s only music so that there’s new ringtones (A Certain Romance, Artic Monkeys)
Just like any year in the disco-saturated 1980s, 2006 could go down in musical history as the worst year in music.

For the whole year, self-respecting music fans constantly banged their heads in disbelief to find themselves drowned in the wussified version of rock music of newcomers Nidji, Letto or Samsons which made one year feel like an eternity in hell.

And for those who thought that the garage rock revival had made the world safe from rock ballads, think again. Instead, for the whole year, the airwaves has been saturated with sweet-talking, girlfriend-worshiping and love-mongering tunes which pretentious titles such as Heaven, Truth, Cry and Lie and Naluri Lelaki (Men’s Instinct).

To magnify music fans’ suffering the same songs have also graced millions of cell phone ring tones.
Yes, Nidji, Samsons and Letto are the music scene’s three biggest acts this year.
Barely audible or visible the year before, the three bands, Nidji and Samsons in particular, enjoyed spectacular success in 2006, moving hundreds of thousands of units, appearing on almost any corporate-sponsored TV shows, going on nationwide tours, gracing the covers of almost any teen magazine and selling millions of minutes of ring tones.

Read more »

Second Edition oleh Public Image Ltd.: Edisi Kedua Sex Pistols

Posted in RS500, punk on August 25, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Baru-baru ini saya mendapatkan album berjudul Second Edition dari kelompok musik Inggris Public Image Ltd. Album ini ada di nomor 461 dalam RS 500 (di Inggris, judul album ini adalah Metal Box, dalam rilis Amerika diubah menjadi Second Edition). Bagi mereka yang cukup mengikuti sejarah musik punk pasti tahu ini adalah kelanjutan kisah kreatif vokalis the Sex Pistols, Johnny Rotten. Setelah Sex Pistols bubar, Johnny Rotten ya bikin band Public Image Ltd. ini bareng gitaris Keith Levene dan pemain bass Jah Wobble serta beberapa orang penabuh drum. Di album ini Rotten kembali ke nama aslinya Johnny Lydon.

Nah, cerita saya bisa dapat album ini adalah sebagai berikut. Saya sudah lama tahu soal Public Image Ltd. Dan album Second Edition yang legendaris ini. Namun pertama yang membuat saya tertarik dengan rilisan ini adalah, seperti biasa, bagaimana album ini dikemas waktu pertama kali dirilis dalam bentuk piringan hitam. Tiga piringan hitam album ini di kemas di dalam kaleng bulat yang biasa dipakai untuk mengirim pita pita film yang hendak di putar di proyektor gedung bioskop.

Read more »

Album Dahsyat My Bloody Valentine

Posted in RS500, alternative, indie on August 22, 2008 by philipsvermonte

Album berjudul Loveless dari kelompok My Bloody Valentine (MBV) ini adalah salah satu album piringan hitam yang paling dahsyat yang pernah saya dengar. Album ini dirilis tahun 1991, dan majalah Rolling Stone menempatkannya pada urutan 217 dari list 500 Greatest Albums of All Time. Album ini menurut saya dahsyat karena memberi pengalaman unik pada telinga dan juga emosi saya. MBV sukses mengeksplorasi noise yang tercipta dari disonansi yang eksesif dari suara gitar listriknya.

Noise yang dimainkan MBV menjadi terdengar sangat melodis dan indah serta memberi efek psychedelic. Gitar dan bass gitar dimainkan dengan efek suara sekeras mungkin, namun dimainkan dalam tempo lambat menghasilkan suasana yang atmospheric. Mendengarkan album Loveless dari MBV ini membuat saya tenggelam dengan perasaan campur aduk dan terbenam dengan diri sendiri. Tidak hanya pendengar yang tenggelam dengan diri sendiri, para personel MBV juga tenggelam dengan dirinya sendiri ketika mereka memainkan musiknya. Mungkin karena itulah mereka ini dikenal sebagai perintis band-band “shoegazer” yang tidak banyak melakukan aksi ketika di panggung, mata mereka menatap lurus ke bawah. Memang album Loveless ini sepertinya akan mengaduk-aduk perasaan pendengarnya: sedih, excited, muram, marah sekaligus.

Read more »

In Utero: Teriakan Putus Asa Nirvana Atas Nama Gen. X

Posted in RS500, grunge, kurt cobain, nirvana on August 18, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Dengan resiko akan membicarakan tentang bunuh diri, kali ini saya akan menulis tentang kelompok musik paling besar di dekade 1990-an, Nirvana. Sangat sulit untuk berbicara tentang Nirvana tanpa menyentuh tema klise bunuh diri sang penyanyi Kurt Cobain. Namun karena tema tersebut sudah terlalu sering dibahas, saya tidak akan menulis lebih lanjut tentang hal tersebut. Cukup untuk dikatakan bahwa bunuh diri sang penghancur berhala (iconoclast) bernama Kurt Cobain, malah membuat dia menjadi berhala yang lebih besar yang tetap menjadi mesin uang bagi siapapun yang mewarisi (secara komersial) karya karyanya.

Read more »

Panggilan dari The Clash

Posted in RS500, punk, rock & roll hall of fame on August 14, 2008 by philipsvermonte

Saya sudah beberapa hari membaca buku ini ketika tadi siang saya mendapat piringan hitam album perdana Elvis Presley di toko vinyl dekat kampus. Tadi itu saya sedang bekerja di library kampus ketika ada kejadian konyol, listrik padam tanpa sebab. Mungkin ada yang rusak, yang jelas ada pengumuman bahwa akan butuh waktu satu jam untuk memperbaikinya. Karena pas jam makan siang, saya memutuskan keluar mencari makan. Karena tidak bisa memutuskan akan makan dimana – apakah McDonald’s, Subway atau Burger King – kaki saya justru melangkah menuju toko vinyl dekat kampus.

Batal makan siang (tahan lapar sedikit lah, makan di rumah aja..he..he), saya malah menyambar album Elvis itu yang covernya serupa tapi tak sama dengan cover album London Calling karya grup punk legendaris asal Inggris, the Clash. Karena sedang membaca buku soal studi komparasi tadi, rasanya menarik untuk sedikit membandingkan dua album ini karena cover yang mirip itu.

Read more »