The Queen Is Dead: Pusaka Musik Dekade 1980-an

Oleh M. Taufiqurrahman

Dekade 1980-an bisa dikatakan sebagai masa paceklik dalam sejarah rock and roll, terutama di belantika musik Amerika Serikat. Pada dekade ini kita bisa melihat contoh- contoh terburuk hampir dari semua genre musik yang ada. Untuk heavy metal kita di Asia Tenggara harus terpaksa menerima gempuran musik-musik kacangan dari kelompok kelompok musik yang dikenal sebagai hair metal (mohon maaf untuk penggemar Bon Jovi, Winger atau Poison). Untuk kategori pop waktu itu, yang merajai tangga lagu adalah musik musik dari Michael Jackson dan Madonna (sekali lagi maaf untuk penggemar berat kedua penyanyi tersebut, saya sendiri tidak punya masalah pribadi dengan keduanya).

Satu-satunya angin segar datang dari kota New York. Hampir selama satu dekade sebuah band bernama Sonic Youth mampu menyelamatkan kredibilitas belantika musik di Amerika Serikat sebelum datangnya era Grunge yang digawangi Nirvana (dan secara kebetulan Nirvana sangat dipengaruhi oleh Sonic Youth, bahkan pada masa awal kelahirannya Nirvana banyak berhutang budi kepada SY). Saya sengaja tidak berbicara tentang Metallica—yang besar dan berpengaruh di dekade ini—karena itu sama sekali persoalan yang berbeda dan bisa dibahas lain kali.

Nah ketika belantika musik pop di Amerika Serikat sedang berada di titik terendah, di seberang atlantik, di Inggris tepatnya, bisa kita amati terjadi sebuah ledakan kreativitas dari beberapa grup musik maupun musisi solo. Seperti sudah kita bicarakan terdahulu, the Clash ada di puncak kreativitasnya pada awal dekade 1980an. New Order menancapkan kuku kukunya di tangga lagu—dan secara artistik juga mumpuni—juga pada awal dekade ini, beberapa saat setelah kematian vokalis Joy Division Ian Curtis. Lantas ada kelompok musik penganut paham neo-Marxist Gang of Four yang melepas album perdana Entertainment! pada tahun 1979, namun kemudian meledak secara kreativitas di awal dekade yang sama. Di belantika musik indie, terdapat beberapa band yang luar biasa bagus, yang mungkin terlalu kecil untuk diketahui khalayak, seperti Young Marble Giants, Orange Juice atau Josef K.

Di pertengahan dekade ini muncul kelompok-kelompok musik baru yang meretas jalan menuju genre baru yang dinamakan dengan shoegazer. Band yang manggung sambil menunduk kebawah melihat sepatu namun mampu menciptakan karya karya klasik ini di antaranya adalah My Bloody Valentine dan the Jesus and Mary Chain (saya akan membahas keduanya kalau saya sudah mendapat piringan hitam kedua album tersebut, betatapun mahal harganya).

Saya koq curiga kalau menjamurnya kreativitas para musisi di masa ini adalah pengaruh dari keresahan sosial ekonomi sebagai akibat kebijakan ekonomi politik perdana menteri Margareth Thatcher yang sangat berhaluan kanan. Analogi ini saya tarik dari masa Indonesia di masa orde baru ketika, musisi seperti Iwan Fals, Setiawan Jodi dan Sawung Jabo mampu melahirkan mahakarya sedahsyat Kantata Takwa (dengan bantuan W.S. Rendra terutama).

Namun dari semua kelompok musik hebat yang muncul dari daratan Inggris pada dekade 1980-an, menurut saya kelompok yang paling bisa dikatakan merajai semuanya adalah band dari Manchester, the Smiths (menarik juga untuk membicarakan kenapa banyak band besar berasal dari Manchester. New Order, Black Sabbath, the Stone Roses, the Buzzcocks, semua berasal dari kota ini. Saya bisa duga ini ada hubungannya dengan kondisinya sebagai kota industri dimana kegelisahan dan alienasi kelas pekerja menuntut mereka untuk mencari katup pelepas).

The Smiths adalah band lain dari yang lain yang memiliki ciri khas khusus yang tidak dimiliki oleh kelompok musik lain.Terlalu banyak kekhususan yang dimiliki oleh band ini. Dan nampaknya terlalu banyak juga yang bisa dibahas dari bebarapa album yang telah mereka rilis, the Hatful of Hollow, Meat is Murder dan Strangeways, Here We Come. Disini saya hanya akan membahas tentang dua orang di belakang kehebatan the Smiths, penyanyi dan penulis lirik Morrissey dan sang pemetik guitar Johhny Marr (saya menggunakan kata memetik, karena bunyi-bunyian dari gitar yang dimainkan oleh Marr lebih cocok dikatakan sebagai hasil petikan, kecuali mungkin di lagu How Soon is Now, dimana Marr banyak menggunakan efek delay dan wah wah).

Dan sebelum melantur terlalu jauh saya juga hanya akan membahas satu album mereka, salah satu mahakarya dan pusaka musik dari dekade 1980an, The Queen Is Dead, yang berada pada nomor 216 dalam list 500 Greatest Albums of All Time-nya majalah Rolling Stone. Album ini menurut saya adalah album yang sempurna luar dalam. Semua seperti jatuh pada tempatnya mulai dari sampul album hijau abu abu dengan gambar Alain Delon yang menghadap keatas, pemilihan font, urutan penyusunan lagu dan tentu saja lagu lagu yang terdapat di dalamnya. Sampul Alain Delon menurut saya salah satu karya seni paling ikonik dari dekade 1980an.

Di album ini Morrissey sedang berada pada puncak kreativitas berkesenian, berpuisi maupun berpolitik. Morrissey juga sedang berada pada tahap yang paling gelap sekaligus paling lucu pada saat yang bersamaan. Penyanyi yang sampai sekarang belum jelas orientasi seksualnya ini, misalnya bisa sangat lucu di lagu “Some Girls Are Bigger than Other”, dimana dia sekedar hanya bercerita tentang kenyataan bahwa ya beberapa perempuan memang lebih gemuk dari yang lain. Atau di lagu “Frankly, Mr. Shankly”, karya yang diciptakan untuk bos perusahaan Rough Trade, label mereka, Geoff Travis. Di lagu ini Morissey seperti sedang marah marah dengan Travis yang tidak menjalankan tugas dengan baik dalam upayanya membuat the Smiths menjadi lebih terkenal. Tapi di ujung lagu Morrissey seperti dengan getir mengatakan bahwa dia sebenarnya cuma minta uang. Sangat lucu.

Namun sebaliknya, Morrissey, yang terkenal sebagai penyendiri dan agak anti-sosial bisa sangat gelap dan berputus asa. Di lagu “I Know It’s Over”, Morrissey bercerita tentang berakhirnya cinta dan kasih sayang dengan gambaran detail bagaimana rasanya orang yang dikubur hidup hidup dengan tanah yang berjatuhan di atas kepala dan masuk ke liang lahat.

Dan tentu saja lagu The Queen Is Dead, sebuah lagu protes sosial anti-monarki yang sangat pedas. Di sini, Morrissey menyindir putra mahkota pangeran Charles sebagai akan selamanya berada di bawah rok sang ibu, Ratu Elizabeth. Atau bahwa ketika sang Ratu telah pergi, koq tiba tiba rasanya menjadi sepi dan aneh. Morrissey sendiri dikenal sebagai si mulut besar karena suka berkomentar, yang secara proporsional maupun asal ngomong selalu berkomentar tentang perkembangan politik (terakhir, di album solo You Are the Quarry, Morrissey menulis lagu yang nampaknya tidak relevan lagi kalau Barack Obama terpilih menjadi presiden Amerika Serikat. Di lagu “America Is Not the World”, dia menulis bahwa Amerika Serikat tidak selayaknya berkhotbah tentang demokrasi dan HAM sebelum mereka punya presiden perempuan, berkulit hitam atau gay..ha ha..ha sangat lucu dan mengena).

Secara musikalitas, banyak kritikus musik bilang bahwa dua lagu dari The Queen Is Dead, yaitu “There is A Light That Never Goes Out” dan “The Boy with the Thorn in His Side”, merupakan dua lagu terbaik yang pernah diciptakan selama seratus tahun terakhir. Ya, saya sih setuju setuju saja, namun menurut saya ada lagu yang lebih baik dari dua karya besar tersebut. Lagu ini adalah lagu terakhir di side A, “Cemetery Gates”. Meskipun judulnya sangat seram, lagu ini memuat karya dan komposisi musik indie pop terbaik yang pernah dibikin oleh Johnny Marr.

Riff dasar lagu ini (yang dimainkan oleh Marr dengan gitar akustik) diambil Marr dari lagu “There She Goes Again” karya the Velvet Underground, dia hanya menurunkan sedikit kunci dari riff dasar tersebut dan memakainya sepanjang lagu. Namun yang lebih mengesankan adalah denting denting melodi yang mengalun halus menyertai chord dasar tersebut. Lagu ini menurut saya termasuk lagu terindah tentang kuburan.

Sebenarnya di lagu ini Morrissey cuma ingin bermain main dengan para kritikus musik yang suka menuduhnya sebagai plagiator dari puisi puisi pengarang Inggris, Oscar Wilde, William Butler Yeats, dan John Keats (saking berpengaruhnya lagu ini saya kemudian baca karya kedua pengarang besar Inggris tersebut. Kalau Wilde sih dikit dikit saya sudah kenal lah sebelum tahu the Smiths). Lagu ini agak pendek, Cuma dua menit lebih sedikit. Jadi setiap selesai pasti seperti ada sesuatu yang kurang dan anda pasti akan mengulanginya lagi untuk mencari detail detail yang tidak sempat tertangkap. Sangat indah.

Lantas ada “Vicar In A Tutu”, lagu yang walaupun oleh teknisi studio tempat The Queen Is Dead direkam, Stephen Street, bisa dikatakan lagu paling lemah, menurut saya ini adalah lagu paling melodis dari the Smiths. Untuk lagu ini Johnny Marr terinspirasi oleh gaya bermusik Elvis Presley, rockabilly dan rock and roll awal. Nah oleh Marr, riff standar rock and roll dia mainkan dengan suara gitar yang sangat bening dan dari jauh terdengar seperti lonceng berulang ulang. Anda harus mendengar sendiri untuk tahu keindahan lagu ini.

Di Jakarta saya sudah lama mengenal the Smiths dan sudah mengaduk aduk semua toko musik dari Sabang, Blok M sampai Mahakam, dan yang saya dapat hanya beberapa CD kompilasi greatest hits the Smiths. Ya bagus juga bisa dapat karya karya awal dan akhir the Smiths, namun saya belum puas dengan pencarian itu, selain karena saya tidak terlalu suka dengan kompilasi greatest hits.

Sampai suatu saat saya datang ke toko buku dan musik yang biasa saya datangi di Kemang, dan keajaiban itu terjadi. CD The Queen Is Dead terpampang dengan menyolok di rak dan hanya butuh satu gesekan kartu kredit, pusaka itu sudah menjadi milik saya. Saya langsung pulang ke rumah, dan sejak saat itu The Queen Is Dead tidak pernah keluar dari CD player saya, serius.

Pindah ke Amerika, saya lupa membawa CD tersebut dan terus terang saya sudah agak lupa dengan The Smiths, sampai saya menonton sebuah program feature online merayakan ulang tahun dirilisnya The Queen Is Dead. Hanya beberapa menit menonton acara tersebut dan melihat video Cemetery Gates, saya langsung klik eBay, mencari pelelangan The Queen Is Dead. Saya bertekad berapapun harga terakhir akan saya kejar, sampai akhirnya saya memenangkan pressing untuk pasar Spanyol dari album tersebut. Dan untuk album sepenting itu harganya juga tidak terlalu mahal. Piringan hitam The Queen Is Dead sih belum sampai di apartemen saya dan mungkin butuh waktu hampir dua minggu lagi untuk sampai. Tapi kini saya bisa hidup lebih tenang karena ada jaminan bahwa dimasa tua saya tetap akan bisa merasakan angst dan kegelisahan Morrissey dalam bentuk aslinya.

Dulu untuk pertama kali waktu saya—dan tentunya dengan teman seperburuan saya Philips — datang ke toko musik Kiss the Sky di Geneva, saya sempat beradu pendapat dengan Steve, si pemilik toko. Ini sebenarnya perdebatan klise tentang album apa yang harus dibawa ketika kita pada suatu saat harus terdampar di pulau tanpa peradaban. Pilihan Steve sih tipikal generasi bunga, the Stones, the Who dan the Kinks. Ya bagus bagus aja, cuma saya tidak bisa hidup tanpa album Entertainment! Gang of Four, Marquee Moon dari Television dan tentunya saja The Queen Is Dead. Pusaka ini cukup bisa membantu saya bertahan hidup cukup lama.

Video klip lagu “The Queen is Dead” dan “Cemetery Gates” bisa dilihat di sini dan di sini

19 Responses to “The Queen Is Dead: Pusaka Musik Dekade 1980-an”

  1. setuju bang ama ente..

    tapi lagu this charming man.. ga ada yang ngalahin…. hehehe..

  2. Gile, sombong amat and so pretentious of you nyela musik thn 80an sebagai era dgn contoh2 terburuk semua genre :) Despite bad hair/makeup dan hair metal, it is one of the best eras buat musik pop, bukannya titik terendah. Argumen lo apa? Jadi panas gini gue haha.

    Apa kabar Depeche Mode, Tears for Fears, Duran Duran..U2 juga masa kejayaan dan karya2 terbaiknya ada waktu 80an. Michael Jackson. Whoelse ya, buat penyanyi cewek, ini juga masa jaya: Madonna, Janet Jackson.

  3. Oya, ada lagi: Jane’s Addiction. Rock 80an juga gak hair metal semua, yg mainstream dan oke misalnya Guns ‘N Roses.

  4. bung, lo dapet berapa dollar buat ni barang? Gua waktu itu nemu, cuman yg bikin gua males dihargain $20 sih

  5. emang harganya segitu, gw dapat 21 dollar sama ongkos kirim ya kira kira 25 dollar murah lah untuk LP se-oke itu

  6. kalau dari album lain William, It was Really Nothing juga bagus, nah kalo yang lain lagi Please, Please, Please Let me Get What I Want juga mantap

  7. Mission Accomplished. Ya sebenarnya for the sake of argument banyak juga yang bisa dikatakan dari 80-an, Minutemen, Dinosaur Jr., Tom Waits, Husker Du, atau semua band yang dibilang Michael Azzerad di Our Bands Could Be Your Life (Jane’s Addiction included) dan itu masuk satu kategori dengan Metallica yang dibahas lain kali. Like A Prayer, Thriller, Bad memang bagus tapi menurut saya terlalu corporate

  8. bentar ada yang kelupaan, gw juga jadi panas he he, duran duran? atau sebenarnya ini masalah selera aja gw gak terlalu doyan musik dari artis dengan nama belakang jackson he he

  9. dan gw bukan rasis lho

  10. wah ini album wajib yg dimiliki, kebetulan gw punya piringan hitamnya disaan berburu di pasar surabaya dengan harga ga lebih dari 2r rebu ajee..
    Morrisey itu emang ibarat Iwan Fals nya Inggris. dan album ini emang keren abis, saya juga setuju lagu “Cemetry Gates” sebenernya lagu yg plng bagus di album ini, tapi ini masalah selera juga sih.., kalo This Charming Man, sampe saat ini lagu ini termasuk plng sering di cover oleh band2 lain, bahkan intro depan lagu ini saya pakai di salah satu website saya: http://www.twincupcake.com

    Entertainment?, Marquee Moon? you shuld try to listen Tom Waits “Closing Time” or Pere Ubu ” Dub Housing” also…

  11. Gile lu masak sih di Jalan Surabaya bisa dapat, gw dah aduk aduk di situ paling banter dulu gw cuma dapet T Rex sama Who’s Next. Teman gw dulu pernah dapat dapat Entertainment! di situ sialan emang ga datang di waktu yang salah kali. Tom Waits? Mule Variations atau Swordfishtrombones? nah kalau keduanya digabung dapat Trout Mask Replica, gw barusan dapat tuh? Kick Out the Jams Mother@#^rs!!

  12. Bung Taufik, kurang lebih 2-3 tahun sebelum Ompung Silalahi meninggal, dia banyak menjual stok plat2 taun 80an nya, dengan harga antara 15rb – 25rb, yaaa semau si Ompung itu aja, dia menganggap band2 punk 80an itu sampah, jd jualnya pun agak asal2an, tp kondisi platnya msh bagus2 dan bersih, dan bnyk pula rilisan dan dr label pertama, disana saya mendapat 3 album The Smith, serta beserta beberapa singlenya, beberapa album The Cure,juga single2nya serta band2 post punk, power pop seperti Gang of four-entertainment,new order, pere ubu, the damned, new york dolls, the raspberries, patty smith,Television (sampe dpt 3 biji malah), the clash,the undertones, the go gos,..wah macem2 deh, blm lg terhitung soundtrack2 yg aneh2 tp keren2. Itu masa pemburuan terbaik yg tak terlupakan, dan saya masih yakin msh bnyk ph2 ’sampah’ itu yg blm dikeluarkan oleh Ompung.
    Wah kalo Tom Waits selain swordfishtrombones yg emang absurd, album closing time dan rain dogs juga merupakan top knotch favorit saya tuh.

  13. Bung Eggy, wah menarik nih sebenarnya ini nih yang pingin saya ketahui lebih lanjut demografi generasi 80-an yang tidak sell-out dan menekuni musik musik GO4, Pere Ubu, Television et.al. Anak muda seperti apa sih mereka, karena saya besar di dekade 1990 dengan grunge jadi saya tidak bisa merasakan zeitgeist 1980-an? Atau mungkin karena saya tidak besar di Jakarta jadi ya mungkin malah tambah jauh dari suasana sebenarnya

  14. Bung Taufik, sebenernya saya cukup telat mengenal musik2 demografi generasi 80an, paling dulu cuma sebatas The Cure dan The Smith aja, selain dulu saya ga punya duit plus miskin informasi hahah, saya mengenalnya kurang lebih baru 5 tahun terakhir ini, ini pun gara2 nyoba2 aja beli2 records (PH) 80an yang ada di Pasar Surabaya, sembari melihat referensi di AMG (www.allmusic.com), dan ada teman saya seorang pengamat musik yang membantu saya mengenalkan beberapa band2 yg 80an yang memang indah, oh ya.. sama satu majalah yang bener2 ngebantu sebagai referensi, namanya MOJO, pasti Bung Taufik tau majalah itu. dari majalah itu dibantu dengan AMG saya mulai mengetahui referensi2 musik pasca 80an, yang tak dinyana, yang dulu awalnya saya lebih menyukai lagu2 dan musik pasca 60an, justru saat ini lagu2 favorit saya lebih banyak berasal dari band2 80an ini. selain yang saya sebutkan diatas, ada satu band namanya The Replacement dan Big Star. bahkan pioner dari kedua band tersebut, yaitu Pete Westerberg dan Alex Chilton, dianggap sebagai ‘bapak’ dari musik alternatif 90an.

  15. kalo ada kesempatan, coba deh Bung Taufik mencari The Replacement itu, terutama album2 awal yang masik dibawah label TwinTone, sejujurnya buat saya sih hampir semua album mereka dan lagu2nya saya suka, kiss me on the buss dan all shock down tetep lagu favorit sih, bahkan solo dari vokalis band tersebut, Paul Westerberg, tetep masih layak untuk disimak, dengan memiliki album Besterberg: Best of Paul Westerberg, itu sudah cukup sih. bener recomended bung!.

  16. oh maksud saya demografi atau siapa sih sebenarnya populasi generasi 80-an yang serius suka musik post punk di Indonesia. Iya Philips barusan beli Mojo edisi sub-pop ulang tahun 20 tahun, meskipun baca Mojo capek karena verbose banget he he. Saya rajin baca Rolling Stone (edisi US, bukan edisi Indonesia lho he he), karena lebih accessible selain lebih murah cocok lah untuk kantong mahasiswa seperti saya. Sekali kali beli Mojo juga dulu waktu edisi the Smiths saya beli dan ngiler lihat expose album album Smiths dalam bentuk PH eh sekarang sudah bisa dapet he he. Replacement, wah saya dah lama nyari PH-nya dan gile mahal mahal, barusan Let It Be dan dua album klasik lain di reissue cuma ya kalo CD saya malas beli, kayaknya sih gak ada edisi vinyl-nya. Kiss Me on the Bus emang asik

  17. Di Ipod saya ada tiga lagu Big Stars, termasuk lagu paling bagus ciptaan Chilton September Gurls (saya download gratis he he) karena CDnya susah even di sini saya belum pernah ketemu dan PH-nya lebih mahal banget. Album baru mereka tahun lalu gak terlalu bagus sih, ngulang resep dr tahun 1970-an sudah out of date sih. Saya sekarang lagi bidding Modern Lovers-nya Jonathan Richman moga moga menang

  18. Wah..kalo populasi pemuda pemudi generasi 80an yg serius suka musik post punk, power pop, etc..waduh saya pribadi kurang tau tuh, mungkin kagak ada kali.. kalo pemuda pemudi jaman skrg sih saya tau hahaha,

    Jonathan Richman, the Modern Lovers…moga2 menang bung,bid sampe titik darah penghabisan heheh itu layak di dengerin dan dimiliki.., apalagi Hey Johny nya..,

  19. Saya pernah ngobrol dengan Tim di sebuah bar di utara Bandung dengan tempatnya yang baru yang kalau dilihat pemandangan sekitarnya setelah 2 shoot tequila kayaknya deket banget dengan Bulan!ok, Tim ini ternyata orang asli Manchester yang tumbuh pada dekade 80-an, setelah kita ngobro panjang lebar mengenai scene musik Punk, Post Punk, SKA, dia bertanya kepada saya..”apa lo tau kenapa musik-musik macam Punk dan sodara-sodaranya itu bisa muncul pada dekade itu?”dengan bodohnya saya hanya bisa menggelengkan kepala, well..menurut dia semua gara-gara wanita jalang itu! That Bitch called Margareth! Wow…(sebenernya saya ga begitu terkejut dengan panggilan Tim ini, mengingat begitu buruknya reputasi Margareth Tatcher di mata orang Inggris sendiri)..menurut Tim, semua kekacauan itu sumbernya dari dia, dia yang membuat para kaum muda Inggris ga punya harapan untuk meraih kehidupan yang lebih baik kala itu..Jadi, daripada mereka meminta belas kasih pemerintah, lebih baik”total Fuck you” aja yang jadi slogan hidup mereka..mereka ga peduli dengan sistem yang ada..tapi ternyata hal itu kiranya yang memancing sense of creativity mereka..

    The Iron Lady, juga yang memecah Inggris menjadi dua, menurut Tim, Utara dan Selatan..ga beberapa lama kita ngobrol gabung lah temenya Andy, dia orang Midland, yang ternyata owner bar ini, tempat saya belajar sejarah kemunculan youth culture Inggris..ternyata dia ga menyalahkan segala komentar bernada cynical teman saya Tim, karena memang, The Lady, mencoba memecah belah Inggris agar dia bisa memegang penuh kontrol kekeuasaan pada waktu itu..

    Well, perbincangan kami waktu itu harus ditutup dengan keberhasilan saya mencapai jackpot karena di traktir 7 shoot tequila oleh Andy!Well done mate!

    Oh iya, betapa terkejutnya saya mendengar pengakuan Tim, bahwa dia ternyata bertetangga dengan Bez, dancernya Stone Roses yang menduia itu, dan betapa dengan Bez, karena dianggap mempermalukan masyarakat Manchester waktu itu!

Leave a Reply