Archive for September, 2008

Lagu Cinta dan Kebencian Leonard Cohen

Posted in rock, rock & roll hall of fame on September 27, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Kadang kita mendengarkan musik bukan karena keindahan aransemen lagu atau vokal sang penyanyi yang mendayu-dayu merdu. Kalau mendengarkan musik hanya karena kedua alasan itu, pilihan itu saya serahkan kepada mereka yang suka dengan Celine Dion atau Kenny G. Dan kalau musik hanya tentang vokal yang merdu dan musik yang enak didengar, tentu saja artis semacam Captain Beefheart, Tom Waits, atau Bob Dylan sudah punah dari awal. Kita (atau saya terutama) memilih untuk mendengarkan ketiga penyanyi tersebut bukan karena keindahan musik mereka—walaupun memang ada beberapa musik Waits dan Dylan yang indah seperti “I Want You” atau beberapa lagu dari Swordfishtrombone, Captain Beefheart sih tidak punya lagu yang indah namun tetap setia saya putar—namun karena kekuatan kata-kata yang kemudian disertai tindakan yang setara.

Bagi saya ketiga orang ini—mengutip Rendra di Kantata Takwa—adalah pejuang yang melaksanakan kata-kata serta bernyanyi untuk memberi kesaksian. Dan untuk alasan yang sama pula kemudian kalau saya menjatuhkan pilihan kepada Leonard Cohen, sang troubador dari Canada.

Read more »

Berita: Kelompok Indonesia di Pitchfork

Posted in alternative, indonesia, misc on September 23, 2008 by philipsvermonte

Posting kali ini agak di luar kebiasaan. Karena bukan kami yang menulis. Di website Pitchfork Media, sebuah website yang sangat disegani untuk musik-musik indie/alternatif, sebuah album karya sebuah kelompok Indonesia mendapat review yang baik. Bahkan diberi rating di atas 7, sesuatu yang sangat bagus.

Album berjudul Fajar Di Atas Awan karya kelompok Suarasama yang direview Pitchfork ini dirilis oleh label Drag City, sebuah label yang memayungi grup terkenal Pavement dan juga Sonic Youth.

philips vermonte

——–
http://www.pitchforkmedia.com/article/record_review/145460-suarasama-fajar-di-atas-awan

Suarasama:
Fajar Di Atas Awan
[RFI France; 1998; Drag City; 2008]
Rating: 7.2

The internet may be diminishing, if not outright destroying, the notion of obscurity. But from Alan Lomax to the folks at Sublime Frequencies, as long as there’s someone driven enough to seek out new sounds, there will always be new sounds waiting to be discovered. The celestial jukebox is nowhere near full. Even Drag City has been on a global kick lately, via its Yaala Yaala imprint. Now comes the indie’s reissue of Suarasama’s 1998 Radio France Internationale debut Fajar Di Atas Awan, which is labeled a Drag City proper release. The disc could pass for something from (the Drag City-distributed) Language of Stone, or even another enigmatic project featuring D.C. house band staples Will Oldham and Matt Sweeney. But the passing resemblance of Suarasama’s music to oft-cited psych or weird folk figures demonstrates that discovery works both ways. Just as music listeners in the West have spent the past several decades digging up strange, exotic sounds from the East, so are musicians in the East constantly discovering and digesting music made in the West, and from the rest of the world as well.

Read more »

Album Tanpa Nama Suicide

Posted in RS500, punk on September 22, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Beberapa hari terakhir saya mendapatkan terlalu banyak piringan hitam dan sangat sulit memutuskan mana terlebih dahulu yang akan saya tulis. Kemampuan membeli dan mengumpulkan saya jauh melebihi kemampuan saya untuk menulisnya. Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan piringan hitam dari dua band punk dari pantai barat Amerika, Fresh Fruit for Rotting Vegetables milik band punk ultra-kiri Dead Kennedys dan Wild Gift milik band punk-blues-rockabily X.

Tidak lama kemudian istri saya datang dari Minneapolis dan membawakan tiga piringan hita, yaitu One Nation Under A Groove dari band Parliament/Funkadelic, the Beach Boys Today! dari band the Beach Boys, serta album politis Randy Newman berjudul Sail Away. Beberapa hari kemudian saya kehabisan coin untuk mencuci di laundry otomatis. Saya pergi menukar uang di toko musik dekat rumah, dan terpaksa beli album Cat Stevens yang judulnya Tea for the Tillerman serta album Greatest Hits dari kelompok folk-pop dari Pantai Barat California, The Byrds, dengan harga yang ultra-murah juga.

Read more »

Metallica Datang Lagi!

Posted in metal, metallica, rock on September 19, 2008 by philipsvermonte

Pada tahun 1991, para penggemar lama Metallica ternganga tidak percaya dan kecewa ketika album bertajuk Metallica (lebih dikenal sebagai Black Album) dirilis. Lagu-lagu mereka menjadi begitu manis, misalnya “Enter Sandman”, “The Unforgiven”, dan “Nothing Else Matter”. Tentu ini pengaruh produser Metallica saat itu, Bob Rock yang selalu sukses menangani kelompok manis Bon Jovi. Dalam satu konser setelah album itu dirilis, James Hetfield sang vokalis berkomentar kaget saat mereka membawakan “Nothing Else Matter”: “It’s scary to look out and see couples hugging during that song…Oh, f**k, I thought this was a Metallica show!”

Toh album itu oleh majalah Rolling Stone didapuk sebagai salah satu album metal paling laris sepanjang masa. Selain itu, Black Album diletakan dalam urutan 249 dari 500 Greatest Albums of All Time. Dalam satu minggu pertama setelah dirilis, Black Album terjual 598 ribu copy. Dan hingga tahun 2003, album itu telah terjual lebih dari 13 juta copy!

Read more »

The Doors: Pintu-pintu Spiritualitas Jaman Modern

Posted in RS500, rock on September 16, 2008 by philipsvermonte

Oleh Rizal Shidiq

Menjelang bulan puasa, jalanan di sekitar Tanah Kusir atau Karet biasanya macet karena banyak orang melakukan ziarah kubur. Ritual ini masih menjadi institusi penting dalam kehidupan sosial Indonesia. Tidak percaya? Lihatlah ribuan rombongan pengajian masjid yang sengaja menyewa bis untuk berziarah ke makam Walisongo. Masih tidak percaya? Jutaan orang berjejalan di terminal dan stasiun berusaha mudik tiap tahun, salah satu tujuan penting mereka adalah untuk menengok makam keluarga. Kuburan juga menjadi salah satu tema yang paling banyak digarap dalam film-film Indonesia yang baru bangkit (dari kuburnya sendiri) itu. Belum lagi sinetron.

Dulu, dengan naif dan sedikit sebal, saya pikir ini hanya terjadi di masyarakat yang sebelah kakinya masih berpijak di dunia agraris di mana kekuatan gaib –sebagai jelmaan kekuatan alam– masih dianggap menentukan mati hidup seseorang. Ketika masyarakat mengalami proses modernisasi dan beranjak ke tradisi industri di mana rasionalitas menjadi raja, ritual semacam ziarah kubur itu tidak relevan lagi. Tapi bagaimana menerangkan bahwa di London sekalipun, orang masih berdatangan ke Highgate cemetery, menyambangi makam Karl Marx –yang jelas-jelas bahkan bilang agama itu candu dunia? Atau bagaimana misalnya di Paris, Le Cimetière du Père-Lachaise didatangi orang-orang dari seluruh dunia untuk ziarah ke makam Jim Morrison, vokalis kelompok The Doors.

Read more »

Master of Reality: Album Relijius (?) Black Sabbath

Posted in RS500, heavy metal, rock on September 12, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Tidak perlu menjadi pemuja setan untuk suka dengan Black Sabbath. Saya pikir ada persepsi yang salah terhadap band asal Birmingham ini. Hanya karena Ozzy Ozzbourne pernah menggigit kepala kelelawar sampai putus di atas panggung dan tuduhan (tidak berdasar) bahwa kalau diputar terbalik beberapa lagu Black Sabbath atau lagu dari album solo Ozzy akan muncul pesan pesan untuk bunuh diri, bukan berarti mereka pemuja setan atau anti agama. Malah sebaliknya bagi saya Black Sabbath adalah band yang sangat relijius. Coba anda putar lagi album ketiga Black Sabbath dari tahun 1971 Master of Reality (bagi yang punya piringan hitamnya anda lakukan lagi ritual seperti biasa). Inilah album yang berada pada nomor urut 298 dari 500 Greatest Albums of All Time versi majalah Rolling Stone.

Album ini hanya dirilis beberapa bulan setelah album paling laris mereka Paranoid. Bagi saya Master of Reality adalah album terberat dan terbaik Black Sabbath yang menggenapi tiga album trilogy terbaik Black Sabbath, Paranoid dan Master of Reality. Album ini, yang banyak ditulis oleh Ozzy dan gitaris Tony Iommi, sebenarnya afirmasi terhadap ketuhanan dan bahwa semua bentuk kejahatan adalah karena ketiadaan arti ketuhanan.

Read more »

War: Kesaksian Tentang Politik Yang Tak Banyak Berubah

Posted in RS500, U2, rock on September 7, 2008 by philipsvermonte

Oleh Rizal Shidiq

Seingat saya, waktu itu saya masih ke sekolah dengan bercelana pendek biru, yang lumayan ketat, alias masih SMP. Saya baru senang-senangnya membaca majalah Hai yang jaman itu artikel-artikel musiknya masih layak baca. Karena majalah itulah, pada suatu sore saya naik bus kota ke sebuah toko kaset –saya masih ingat nama toko itu Leopard– untuk membeli kaset U2.

Di kota saya, susah mencari album U2. Apalagi saat itu kelompok itu belum terlalu terkenal. Satu-satunya tempat yang menjual kaset yang agak update dengan Jakarta dan majalah Hai, ya toko itu. Hari itu saya membawa pulang kaset U2. Saya lupa apakah saya beli dua kaset atau satu kaset tapi isinya dua album –waktu itu isi kaset bisa campur aduk, terserah perusahaan rekamannya. Tapi yang jelas, isinya lagu-lagu dari album Boy dan War –dan untuk dua minggu ke depannya saya tidak bisa lagi jajan.

Read more »

Dari Elvis Costello Hingga Konser Amal Untuk Kamboja

Posted in RS500, live concert, punk, rock on September 4, 2008 by philipsvermonte

Saya pikir-pikir, ‘membaca’ karya musik tidak ada bedanya dengan membaca karya tulis dalam konteks dunia akademis yang saya jalani. Saya harus membaca buku dan artikel-artikel dari berbagai jurnal ilmiah. Tentu saja banyak diantara buku dan artikel ini yang tidak bisa segera saya pahami isinya. Kalau begini, biasanya saya melanjutkan ke bacaan lain. Suatu saat saya akan sampai pada sebuah bacaan yang menjelaskan dengan lebih baik tema serupa yang ditulis dalam buku atau artikel yang semula tidak saya pahami isinya itu. Begitulah bekerjanya dunia akademik, karya-karya tulis pada dasarnya seperti jaring laba-laba yang terhubung satu dengan yang lainnya.

Seperti itu juga kejadiannya dalam hal musik. Beberapa bulan lalu saya mendapat album piringan hitam berjudul Armed Forces (1979) dari Elvis Costello and the Attractions. Album ini ada dalam list 500 Greatest Albums of All Time majalah Rolling Stone di urutan 474. Ketika saya dengarkan pertama kali, karya Elvis Costello ini tidak bisa langsung saya nikmati. Setelah mengekspose diri dengan beragam album dan karya musik lain, saya kembali mendengarkan album itu beberapa hari terakhir ini. Ternyata album itu nikmat untuk didengarkan. Dan nyatanya album itu adalah album cukup penting dalam sejarah perkembangan musik. Lagu pertama “Accidents Will Happen” bahkan disebut sebagai salah satu peletak dasar musik New Wave yang tidak lama kemudian berkembang subur di tahun 1980-an. Di lagu lain, yang berjudul “Oliver’s Army”, bisa kita rasakan beat dan ekspresi emosional yang kentara dimana Elvis Costello menggabungkan punk dan pop dengan manis (klik di sini).

Read more »

Mendengarkan Pet Sounds Dengan Cara Lain

Posted in RS500, rock on September 4, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Menarik untuk membandingkan karir bermusik kelompok legendaris asal California the Beach Boys dengan band Radiohead, yang juga tidak kalah legendaris meskipun mereka masih band muda. Keduanya memiliki kesamaan bahwa di masa awal keberadaan mereka kedua kelompok ini tidaklah begitu istimewa. Kelompok musik Radiohead yang kini kita kenal sebagai sekumpulan pemain musik avant garde, di masa awal berdirinya dulu hanyalah band alternatif yang sulit dibedakan dengan kelompok lain yang memanfaatkan kesuksesan Nirvana untuk membuka jalan bagi musik alternatif. Lagu pertama Radiohead, “Creep”, yang memperkenalkan Radiohead kepada dunia adalah musik untuk kaum depresif seperti yang dimainkan oleh Nirvana atau Alice In Chains. Namun kita kemudian tahu bahwa Radiohead terus berkembang dan mengembangkan diri secara luar biasa berhasil dan menghasilkan mahakarya besar The Bends, OK Computer dan Kid A. OK Computer bahkan dinobatkan oleh beberapa media sebagai album terbaik dari dekade 1990-an.

Demikian pula halnya dengan the Beach Boys, band anak anak pantai California ini pada awalnya hanya mencetak lagu-lagu laris yang bertema senang senang, berselancar, kebut kebutan mobil dan tema cinta-cintaan pada umumnya. Namun demikian, dengan dimotori oleh sang anggota band yang jenius, Bryan Wilson, kelompok musik ini secara perlahan mulai menjauhkan diri dari keramaian, mengambil jalan sepi kemudian menciptakan musik yang luar biasa bermutu, namun tetap berakar pada sendi sendi musik pop yang manis.

Read more »

Graceland: Karya Kemanusiaan Paul Simon

Posted in RS500, folk, rock, rock & roll hall of fame on September 1, 2008 by philipsvermonte

Di musim panas tahun 1984, Paul Simon menerima hadiah sebuah kaset dari seorang temannya. Ia kemudian begitu terpesona pada kaset yang berjudul Gumboots: Accordion Jive Hits itu. Menurutnya, album itu adalah “very happy music” dan terasa begitu akrab. Album itu adalah album musik rakyat dari daerah Soweto di Afrika Selatan.

Album Gumboots ini menjadi pemicu eksplorasi kreatif Paul Simon sampai menempuh perjalanan jauh ke Afrika untuk berkolaborasi dengan musisi lokal dan akhirnya melahirkan album legendaris berjudul Graceland (1986). Album ini oleh majalah Rolling Stone diletakkan dalam urutan 81 dari list 500 Greatest Albums of All Time. Album solo Paul Simon lain yang masuk dalam list RS 500 itu adalah There Goes Rhymin’ Simon (1973).

Read more »