Master of Reality: Album Relijius (?) Black Sabbath

Oleh M. Taufiqurrahman

Tidak perlu menjadi pemuja setan untuk suka dengan Black Sabbath. Saya pikir ada persepsi yang salah terhadap band asal Birmingham ini. Hanya karena Ozzy Ozzbourne pernah menggigit kepala kelelawar sampai putus di atas panggung dan tuduhan (tidak berdasar) bahwa kalau diputar terbalik beberapa lagu Black Sabbath atau lagu dari album solo Ozzy akan muncul pesan pesan untuk bunuh diri, bukan berarti mereka pemuja setan atau anti agama. Malah sebaliknya bagi saya Black Sabbath adalah band yang sangat relijius. Coba anda putar lagi album ketiga Black Sabbath dari tahun 1971 Master of Reality (bagi yang punya piringan hitamnya anda lakukan lagi ritual seperti biasa). Inilah album yang berada pada nomor urut 298 dari 500 Greatest Albums of All Time versi majalah Rolling Stone.

Album ini hanya dirilis beberapa bulan setelah album paling laris mereka Paranoid. Bagi saya Master of Reality adalah album terberat dan terbaik Black Sabbath yang menggenapi tiga album trilogy terbaik Black Sabbath, Paranoid dan Master of Reality. Album ini, yang banyak ditulis oleh Ozzy dan gitaris Tony Iommi, sebenarnya afirmasi terhadap ketuhanan dan bahwa semua bentuk kejahatan adalah karena ketiadaan arti ketuhanan.

Di lagu “After Forever” (klik di sini), yang dari temanya kita bisa artikan sebagai alam barzakh, Ozzy menyanyi diiringi raungan gitar Iommi yang bergemuruh: If they knew you believe in God above//They should realize before they criticize//That God is the only way to love// di awal lagu justru ada pertanyaan yang sangat agamis; Is God just a thought within your head or is he a part of you?//Is Christ just a name that you read in a book when you are at school? Gila, pertanyaan pertama Ozzy ini mengingatkan saya ke pertanyaan abadi Pantheisme a la filusuf Yahudi Belanda Baruch Spinoza atau malah mengingatkan saya kepada kenapa akhirnya Syekh Siti Jenar dibakar oleh rekan rekannya di kelompok Wali Songo.

Nah pertanyaan pertanyaan agamis dan eksistensial seperti ini kemudian membuat saya heran kenapa Black Sabbath di cap sebagai pemuja setan. Atau apakah karena kemudian mereka menolak agama dan ketuhanan seperti yang disiarkan oleh otoritas kemapanan. Masih dari lagu After Forever, Black Sabbath kemudian menghujat otoritas agama: When you think about death do you lose your breath or do you keep your cool?//Would you like to see the Pope on the end of the rope—do you think he is a fool?

Namun lebih dari sekedar agamis dan eksistensialis, Black Sabbath sebenarnya band yang sangat politis. Di lagu Children of the Grave (klik di sini), misalnya sebuah lagu tentang perang, perdamaian dan revolusi Black Sabbath seperti menjadi juru bicara kemanusiaan bagi pertanyaan sebenarnya peradaban Barat mau di bawa kemana kalau umat manusia dihantui ketakutan penghancuran massal oleh senjata nuklir: Will the sunrise tomorrow bring in peace in any way//Must the world live in the shadow of atomic fear//Can they win the fight for peace or will they disappear?

Ini adalah pertanyaan yang sama dengan yang John Lennon sampaikan di lagu Imagine. Perlu diingat bahwa Ozzy Ozbourne dan teman temannya di Black Sabbath ada di usia pertengahan dua puluhan ketika dunia hanya berlalu kurang dari satu dekade dari krisis peluru kendali nuklir di Kuba yang mengancam dunia akan terjadi kehancuran total seandainya Presiden Uni Soviet Nikita Kruschev tidak menyerah kepada gertakan Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy untuk segera memindahkan peluru kendali nuklir dari Kuba di awal dekade 1960-an.

Saya curiga kalau sebenarnya kampanye negatif terhadap Black Sabbath sebenarnya diluncurkan oleh orang orang di kemapanan yang terganggu oleh political correctness band ini. Sama seperti pada waktu John Lennon ditolak masuk Amerika Serikat tidak lama setelah lagu Imagine keluar.

Itu soal lirik dan posisi politik Black Sabbath. Sekarang kita beralih kepada musik yang direkam di album ini. Album ini, dan musik Black Sabbath secara keseluruhan adalah sangat unik dan saya yakin tidak ada band lain yang bisa menirukan apa yang mereka mainkan. Bahkan ketika Ozzy keluar dari Black Sabbath dan Iommi main sendiri meneruskan Black Sabbath musiknya juga kemudian menjadi lain. Bagi saya tanpa Black Sabbath tidak akan pernah ada Metallica, stoner rock Queens of the Stone Age atau bahkan keseluruhan gerakan grunge juga tidak akan pernah lahir. Black Sabbath adalah cetak biru yang kemudian ditiru oleh ratusan band muda di generasi kita.

Riff riff tebal dari band Mudhoney misalnya, itu cuma sedikit modifikasi saja dari kocokan gitar Iommi. Coba perhatikan riff riff Iommi yang sangat khas itu. Iommi menurut saya adalah salah satu gitaris rock terbaik yang pernah ada namun dengan caranya yang khas dia seperti menurunkan kemampuannya yang mumpuni hanya untuk memainkan riff riff tebal dan kasar yang berjalan pelan dan tertatih tatih (contoh terbaik ya intro lagu Iron Man dari album Paranoid). Permainan gitar solo Iommi sebenarnya sangat luar biasa bagus namun dia seperti sengaja membuat kunci kunci nada menjadi agak lepas namun ini malah kemudian menjadi sangat khas.

Namun seperti saya sebut diatas kehebatan Black Sabbath adalah permainan rhythm section yang sangat ketat. Tidak adil untuk membandingkan Led Zeppelin dengan Black Sabbath, namun di album Paranoid penabuh drum Bill Ward sering memainkan drum solo yang tidak kalah mumpuni dengan John Bonham. Atau di lagu Solitude, hanya dengan petikan gitar listrik dan dentuman bass Black Sabbath menciptakan lagu yang sangat indah dan melodis, yang saya yakin menjadi inspirasi bagi Metallica ketika mereka membuat the Black Album di tahun 1991. Bahkan saya juga yakin kalau sampul berwarna hitam total dari album Metallica ini sebenarnya cuma mengulang kembali apa yang dilakukan Black Sabbath dengan Master of Reality mencat sampul album dengan warna hitam dan tulisan Master of Reality dengan warna biru (tergantung juga piringan hitam mana yang anda peroleh soalnya ada juga versi dengan menggunakan beberapa warna berbeda untuk tulisan judul album tersebut. Saya punya yang dengan warna biru.

Dulu saya pernah lihat beberapa kali piringan hitam Master of Reality dan Paranoid di Jl. Surabaya, pusat perdagangan piringan hitam yang rajin saya kunjungi di Jakarta paling tidak seminggu sekali. Saya selalu tidak berhasil menawar album album tersebut di bawah 60 ribu dan akhirnya saya beli yang PH lain yang lebih murah (maklum penghasilan di Jakarta cepat dimakan inflasi), namun saya kemudian sempat beli CD Master of Reality dan itu yang saya dengarkan sampai kemudian beberapa waktu yang lalu Record Rev di dekat rumah menawarkan Master of Reality hanya dengan harga hanya 6 dollar. Album ini sangat otentik bahkan mixing yang tidak terlalu sempurna dari beberapa lagu di album ini masih bisa terdengar seperti suara bass yang agak pecah di speaker kanan. Kini, ketika saya lelah dengan kuliah atau kenyataan tentang perang, perdamaian dan revolusi cukup pasang Master of Reality namun tentu tanpa harus melibatkan zat zat atau tumbuh tumbuhan haram, ada anak kecil di apartemen saya.

Leave a Reply