Lagu Cinta dan Kebencian Leonard Cohen

Oleh M. Taufiqurrahman

Kadang kita mendengarkan musik bukan karena keindahan aransemen lagu atau vokal sang penyanyi yang mendayu-dayu merdu. Kalau mendengarkan musik hanya karena kedua alasan itu, pilihan itu saya serahkan kepada mereka yang suka dengan Celine Dion atau Kenny G. Dan kalau musik hanya tentang vokal yang merdu dan musik yang enak didengar, tentu saja artis semacam Captain Beefheart, Tom Waits, atau Bob Dylan sudah punah dari awal. Kita (atau saya terutama) memilih untuk mendengarkan ketiga penyanyi tersebut bukan karena keindahan musik mereka—walaupun memang ada beberapa musik Waits dan Dylan yang indah seperti “I Want You” atau beberapa lagu dari Swordfishtrombone, Captain Beefheart sih tidak punya lagu yang indah namun tetap setia saya putar—namun karena kekuatan kata-kata yang kemudian disertai tindakan yang setara.

Bagi saya ketiga orang ini—mengutip Rendra di Kantata Takwa—adalah pejuang yang melaksanakan kata-kata serta bernyanyi untuk memberi kesaksian. Dan untuk alasan yang sama pula kemudian kalau saya menjatuhkan pilihan kepada Leonard Cohen, sang troubador dari Canada.

Sama seperti Bob Dylan, vokal Leonard Cohen tidaklah bagus, suara bariton yang berat dan kadang kadang sengau dan kalau menyanyi dia lebih mirip membaca puisi dan mendongeng. Belum lagi aransemen musik yang rata-rata sangat sederhana dan minimalis. Di tiga album pertama Cohen, Songs of Leonard Cohen, Songs From A Room dan Songs of Love and Hate, musik yang mengiringi nyanyian Cohen adalah petikan gitar standar, kadang diselingi slide gitar berbau flamenco. Contoh gitar flamenco itu ada di lagu “Teacher” dari album Songs of Leonard Cohen (klik di sini), sedangkan sedikit sentuhan chamber orkestra nampak di lagu “Avalanche” dari album Songs of Love and Hate yang juga ditambah dengan bumbu musik Eropa lama (klik di sini). Bagi yang ingin mendengarkan musik untuk minum kopi di sore hari, musik Cohen terlalu sedih dan pasti tidak cocok, terutama album Songs of Love and Hate.

Menurut saya, ketiga album ini memiliki arti penting memang bukan karena musiknya. Namun lebih karena puisi-puisi kuat yang dipakai Cohen sebagai lirik. Di album Songs of Love and Hate, yang vinyl-nya baru saja saya peroleh dengan harga 99 sen, puisi-puisi itu dengan cepat meraih perhatian dan menyerap kita ke dalam intensitas perenungan Cohen tentang arti cinta (bukan cinta-cintaan) dan kebencian yang kadang terlalu sulit ditangkap maknanya (kadang saya pura-pura tahu saja biar aman). Di lagu “Joan of Arc” tidak jelas apakah Cohen hendak menafsirkan ulang sejarah tentang pahlawan perempuan Prancis Joan of Arc, atau dia sedang berbicara tentang perempuan yang tinggi hati dan tidak mungkin diraih.

glad to hear you talk this way,
you know I’ve watched you riding every day
and something in me yearns to win
such a cold and lonesome heroine.

it was deep into his fiery heart
he took the dust of Joan of Arc,
and then she clearly understood
if he was fire, oh then she must be wood.
I saw her wince, I saw her cry,
I saw the glory in her eye.
Myself I long for love and light,
but must it come so cruel, and oh so bright

Beberapa lagu Cohen bahkan memiliki kekuatan liris yang luar biasa kuat dan mengingatkan saya pada karya-karya pengarang realisme magis yang syahdu itu. Coba tengok lagu “Teachers“, yang menarik untuk dibedah meski bukan dari album yang saya peroleh.

I met a man who lost his mind
in some lost place I had to find,
follow me the wise man said,
but he walked behind.

I walked into a hospital
where none was sick and none was well,
when at night the nurses left
I could not walk at all.

Morning came and then came noon,
dinner time a scalpel blade
lay beside my silver spoon

Atau mungkin memang seperti itu hasilnya kalau lirik lagu dimaksudkan lebih sebagai karya seni puisi yang terbuka untuk ditafsirkan oleh siapapun yang membacanya. Lagu-lagu seperti itu memang bisa diciptakan oleh Cohen karena dia memang seorang penyair terkenal di Canada sebelum dia pindah haluan menjadi penyanyi. Sama seperti Patti Smith yang beralih jalur menjadi penyanyi punk untuk lebih mendekatkan karya seninya kepada khalayak, Cohen juga memilih jalur itu. Di awal usia 20-an Cohen, lahir dari keluarga Yahudi orthodoks di Montreal, sudah menjadi penyair dan novelis terkenal di Canada sebelum kemudian pindah ke Amerika Serikat dan sebentar bergabung dengan rumah seni Andy Warhol, serta kemudian menandatangani kontrak dengan Columbia Records.

Cohen sangat dipengaruhi oleh penyair besar Spanyol Federico Garcia Lorca, dan tidak mengherankan kalau gaya berpuisi dia kemudian sangat dipengaruhi oleh Lorca. Bahkan ada sekelompok orang yang sempat membuat petisi untuk menominasikan Cohen untuk Hadiah Nobel untuk sastra untuk terjemahan dia atas Take This Waltz. Nobel sih akhirnya tidak diraih namun tahun lalu Leonard Cohen sudah dianugerahi gelar legenda rock dan masuk ke Rock and Roll Hall of Fame.

Saya ‘kenal’ Leonard Cohen lewat dua jalur. Melalui Kurt Cobain dan Jeff Buckley. Yang saya sebut terakhir ini penyanyi melankolis yang mati muda di usia 27 tahun hanya setelah merekam satu album penting Grace. Kurt Cobain menyebut nama Cohen secara langsung di lagu “Pennyroyal Tea” dari album In Utero: “Give Me Leonard Cohen Afterworld” yang bisa saya artikan secara bebas ya kalau di alam barzakh nanti dia cuma mau dengar musik musik Leonard Cohen, dan nampaknya sudah tercapai keinginan Cobain. Terus melalui Buckley saya mengenal Hallelujah (klik di sini), lagu Cohen yang tidak terlalu terkenal namun justru setelah Buckley membawakannya di album Grace orang kemudian ingin tahu siapa yang menciptakan lagu dan puisi indah itu. Di lagu “Hallelujah“, yang bercerita tentang iman, cinta dan sex, ada beberapa bait yang sangat mencekam batin:

well your faith was strong but you needed proof
you saw her bathing on the roof
her beauty and the moonlight overthrew you
i used to live alone before i knew you
i’ve seen your flag on the marble arch
but love is not a victory march
it’s a cold and it’s a broken hallelujah

Terus terang saya lebih suka versi Buckley yang sunyi dan megah, namun Buckley tidak akan sampai ke taraf itu kalau bukan dengan kekuatan lirik Cohen yang agung itu. Setahun yang lalu saya membeli greatest hits Leonard Cohen, namun entah karena apa CD tersebut jatuh di jalan, dan beruntunglah kondektur bis atau tukang ojek yang menemukannya. Saya belum berhenti mengutuk kenapa saya bisa menjatuhkan CD itu di jalan sampai kemudian saya memndapat vinyl Songs Of Love and Hate beberapa hari yang lalu. Dengan tulisan besar judul album dan siluet Cohen dibawah tulisan itu, album ini terasa sangat kelam apalagi dengan balutan warna hitam total di sleeve piringannya. Kurt Cobain mungkin memutar LP ini ketika sedang marah atau bingung, namun tidak perlu pergi sejauh dia untuk akhirnya memahami apa yang Cohen katakan.

Leave a Reply