Berdamai dengan Jethro Tull (Akhirnya)

Oleh M. Taufiqurrahman

Mungkin karena saya takut bahwa kredibiltas saya sebagai pemerhati musik indie dan punk (yang saya ciptakan dan hanya saya sendiri yang percaya dan peduli) akan jatuh, sampai beberapa hari yang lalu saya memilih untuk tidak peduli dan sengaja menghindar dari sebuah kelompok musik dari Inggris Jethro Tull. Bagi saya Jethro Tull sinonim dengan hal hal buruk yang berlebihan di musik rock.

Saya masih ingat ketika band indie (dulu favorit saya) the Decemberist mengeluarkan album baru mereka The Crane Wife, seorang kritikus di Pitchfork menulis dengan nada mengejek bahwa kecenderungan the Decemberist untuk berpanjang-panjang tanpa tujuan mengingatkan dia akan Jethro Tull. Walaupun secara keseluruhan the Crane Wife dapat ulasan bagus, sejak saat itu saya agak malas untuk peduli dengan the Decemberist—selain karena sejak saat itu banyak muncul band bagus selain mereka, seperti Fleet Foxes, Band of Horses dan Explosions in the Sky.

Saya juga masih ingat ketika mantan juru bicara Gedung Putih Tony Snow, stasiun televisi ultra kanan Fox News Channel menayangkan obituary Snow. Tayangan itu menekankan betapa Snow sangat mengidolakan Jethro Tull. Bahkan Fox menayangkan satu cuplikan klip yang memperlihatkan Snow dengan mahir sedang beradu kebolehan memainkan flute dengan Ian Anderson, vokalis dan peniup seruling (band rock? Seruling? Hah?) Jethro Tull. Bagi saya Tony Snow adalah orang baik dan sopan, namun fakta bahwa dia Republikan dan meniup seruling serta mengidolakan Jethro Tull lebih dari cukup untuk menjadi alasan untuk jauh-jauh dari band ini. Dulu di Jakarta beberapa kali saya sempat hendak membeli piringan hitam album terbesar band ini, Aqualung. Pedagang di Jl. Surabaya sepertinya punya supplai berlebih untuk album ini, namun saya selalu berhasil menahan keinginan saya demi harga diri saya.

Namun kemudian saya pikir koq banyak perlakuan tidak adil terhadap kelompok musik ini. Dan menurut saya kalau ada satu hal yang salah dari band ini, ya hanya masalah seruling tadi. Di luar itu, Jethro Tull adalah kelompok musik rock normal yang pernah menciptakan album jenius berjudul Aqualung, album anti agama yang meskipun bisa dikatakan sebagai konsep album namun selalu ditolak oleh Ian Anderson. Dan kalau dikatakan bahwa masalah terbesar Jethro Tull adalah kecenderungan berpanjang panjang, itu adalah kritik yang tidak pada tempatnya, kalau yang dijadikan dasar adalah Aqualung. Album ini cuma 47 menit panjangnya, 5 menit lebih pendek dari album the Strokes terakhir Last Impression of Earth dan setengah kali lebih pendek dari magnus opus band progressive rock seangkatan mereka King Crimson, In the Court of King Crimson.

Sebenarnya ada alasan lain yang membuat semua orang (dan juga saya) untuk tidak punya masalah dengan Aqualung, album ini mengetengahkan salah satu tema favorit saya, agama sebagai institusi sosial dengan hirarki dan dogma terstruktur yang mencekik leher. Di album ini vokalis Ian Anderson, seorang yang percaya Tuhan dengan “t” besar dan seorang Pantheis (Wikipedia bisa membantu) menulis kemuakan dia terhadap agama. Di lagu “My God“, Anderson mencerca://People-what have you done//Locked Him in His golden cage//Made Him Bend to Your Religion//the Bloody Church of England//in chains of History// (klik di sini untuk melihat klip konser nya)

Pendek kata Anderson mempertanyakan klaim semua agama bahwa tuhan sebenarnya hanya bisa dimiliki oleh satu agama tertentu. Nah kalau itu belum cukup, di beberapa bait berikutnya Anderson melanjutkan dengan: //He is the God Of Nothing//If that’s all that you can see// sebelum kemudian mengemukakan pandangan pantheistic://You Are the God of Everything//He is a Part of You and Me//.

Namun kalau tema seserius itu tidak cukup mencekat pikiran anda, musik di album Aqualung adalah komposisi kelas satu yang mendekati kualitas simfonik. Bagi saya riff pembuka lagu pertama Aqualung, adalah satu riff paling bagus dan paling mudah dikenali setara dengan riff pembuka “Smoke on the Water” milik Deep Purple atau intro pembuka lagu “Enter Sandman“. Juga, kalau dicermati baik baik, suara seruling Anderson juga tidak terlalu mengganggu dan menyatu dengan cair dengan petikan gitar akustik, denting piano yang rata rata mengalir cemerlang di sepanjang album ini. Komposisi lagu lagu di album Aqualung ini sangat Inggris dan mengingatkan saya ke lagu-lagu band folk-Inggris Fairport Convention sewaktu Sandy Denny masih menjadi penyanyi utama.

Vokal Ian Anderson juga sangat bagus. Bagi yang baru pertama kali mendengar Jethro Tull pasti banyak yang salah mengira kalau Cat Stevens sedang menyanyi. Hal terakhir yang selayaknya bisa membuat Aqualung menarik untuk dimiliki tentu adalah karena sampul album yang sangat bermutu karya pelukis potret terkenal Burton Silverman. Silverman adalah illustrator untuk majalah Time dan New Yorker dan saya yakin anda pasti secara tidak sadar pernah melihat karya dia dimuat di kedua media tersebut. Imaji di sampul album ini sangat kuat sampai sampai kritikus Rolling Stone yang menulis entry di 500 Greatest Album of All Time, secara khusus menulis satu kalimat `bahwa sampul album ini pasti mendirikan bulu roma anak anak tahun 1970-an’. Di sampul album ini dilukis seorang tua gelandangan dengan wajah menggeram dan seperti sedang menyelinap di belakang gereja (saya bukan ahli semiotic jadi silahkan anda tafsirkan arti gambar ini). Di sampul belakang, tokoh yang sama nampak dilukis dengan pose yang agak bersahabat, duduk di pinggir jalan di sebelah anjing kecil. Nah di sampul tengah, anggota band Jethro Tull dilukis dengan kostum abad pertengahan sedang main di bar tua, dan kalau anda memiliki versi gatefold vinyl, gambar di sampul tengah ini cukup nyaman untuk dinikmati sambil memutar piringan hitamnya.

Nah gambar sampul tengah ini lah yang kemarin secara tidak sengaja saya pergoki ketika sedang pergi belanja ke toko barang bekas Salvation Army. Saya sudah selesai mencari meja dan kursi serta beberapa buku untuk anak perempuan saya dan sudah selesai membayar serta memasukkan barang ke bagasi mobil ketika terbit keinginan untuk kembali masuk toko dan mencoba peruntungan di tumpukan piringan hitam tidak penting yang dijual rata rata seharga 95 sen. Di antara piringan hitam Andy Williams dan penyanyi penyanyi Amerika yang tidak pernah saya dengar namanya, tiba tiba ujung mata saya menemukan gambar yang terasa sangat familiar. Saya tarik gambar itu, dan benar memang ini album Aqualung yang terkenal itu. Saya tambah tercekat setelah saya periksa piringannya masih mulus. Tanpa ragu lagi saya langsung ke kasir dan membayar dengan recehan seharga 95 sen. Jadi sekarang apartemen saya yang kecil sekarang semakin lengkap dengan meja, kursi, beberapa buku dan suara mengalun Ian Anderson dan bunyi-bunyian megah Jethro Tull.

One Response to “Berdamai dengan Jethro Tull (Akhirnya)”

  1. Waduh, selamat. Sy ikut senang Anda berdamai dg jethro tull. Tp klo pun bukan sekarang, menyimak kemawahan kuping Anda, suatu kali nanti, perdamaian itu pasti akan terjadi. Nggak bisa nggak. Kuping mmg bisa apa saja. Hehehe.

Leave a Reply