Mengagumi Van Halen
Boleh dibilang saya tumbuh bersama grup rock Van Halen. Ketika mulai mendapat uang saku mingguan saat duduk di bangku SMP, album baru Van Halen selalu setia saya beli. Yang pertama saya miliki adalah album berjudul 1984 (atau MCMLXXXIV). Album yang dirilis pada tahun sesuai dengan judulnya ini saya beli ketika saya duduk di kelas satu SMP di tahun 1985. Album inilah yang membuat saya jatuh cinta pada Van Halen. Penyuka musik rock mana yang tidak kenal lagu “Jump” (klik di sini untuk melihat klip nya), “Panama” (klik di sini), “I’ll Wait”, dan “Hot for Teacher”? Semua lagu ini ada dalam album 1984. “Jump” bahkan begitu legendarisnya, hingga sekarang menjadi lagu rock klasik. Begitu juga dengan aksi lompatan di panggung oleh vokalis David Lee Roth dan gitaris Eddie Van Halen ketika mereka membawakan lagu ini, image-nya begitu tertanam dalam benak mereka penyuka musik rock yang besar di era tahun 1980-an.
Album 5150 keluar ketika saya duduk di kelas dua SMP di tahun 1986 Tentu saya tidak melewatkannya, tetapi lupa beli dimana. Entah di Aldiron Plaza di Blok M, Pasar Mayestik dekat sekolah, atau Aquarius Mahakam. Maklum, masa-masa itu harga kaset murah meriah, bajakan semua. Toko kaset bertebaran dimana-mana. Lagu-lagu album ini semacam “5150” (klik di sini untuk melihat klip-nya), “Why Can’t This Be Love”, “Love Walks In” di hari-hari itu tidak pernah ketinggalan saya putar pagi, siang, sore, malam.
Album lainnya, OU812, dirilis saat saya kelas tiga SMP di tahun 1988. Album yang dibaca sebagai “Oh, you ate one too” ini juga tidak ketinggalan saya beli dan saya putar bolak-balik.
Van Halen mengambil jeda selama tiga tahun untuk membuat album berikutnya, For Unlawful Carnal Knowledge (ada yang menyingkatnya menjadi album F*CK), yang dirilis pada tahun 1991. Album ini saya beli di hari-hari menjelang dimulainya status saya sebagai mahasiswa baru di kota Bandung. Di tengah kebingungan, kegirangan, dan kegugupan menjadi mahasiswa baru, album ini menemani saya setiap pagi sebelum berangkat Ospek, dan setiap malam saat mengerjakan tugas-tugas ajaib dari senior di kampus untuk esok paginya. Karenanya, saya begitu akrab dengan album Van Halen yang satu ini.
Setiap subuh sebelum berangkat Ospek, saya merasa wajib memutar lagu pemompa semangat, semangat menghadapi senior-senior (sok) galak. “Man on a Mission”, “Right Now”, “Top of the World”, “Roundaround” (klik di sini) adalah lagu-lagu yang menggetarkan adrenalin. Bahkan hingga sekarang, kalau semangat sedang berada pada titik nadir, saya tidak pernah bosan memutar lagu “Top of the World” (klik di sini).
Album Van Halen yang terakhir saya beli dalam format kaset adalah album Balance (1995). Saya begitu terbenam dengan keindahan lagu “Not Enough” dalam album ini. Ketika masih di Jakarta, hampir setiap hari saya kirim sms ke radio M97FM, radio khusus musik rock yang bubar tahun 2005, minta diputarkan lagu “Not Enough” (klik di sini). Untung Ifeb yang siaran pagi atau teman saya Bipi yang siaran sore hari tidak pernah bosan dan tidak pernah menolak memutarkan lagu ini.
Musik Van Halen sangat dinamis. Riff-riff yang dimainkan Eddie Van Halen begitu unik dan kaya. Gitar solo nya bisa sekaligus meraung dan juga menyayat. Ditambah lagi dengan teknik tapping-nya. Eddie Van Halen adalah pelopor teknik two-handed tapping dimana ia menggunakan jari-jari kedua tangannya secara bersamaan untuk mengetuk nada-nada di fret gitarnya.
Motor grup ini tentu saja adalah dua bersaudara Van Halen, Eddie dan Alex yang memainkan drum. Mereka berdua sejak kecil menjalani training musik yang ekstensif. Maklum saja, ayah mereka adalah pemain saxophone dan clarinet yang bermain dalam kelompok jazz big band dan juga musik klasik. Eddie dan Alex belajar piano dan musik klasik sejak berusia enam tahun. Ketika keluarga mereka hijrah ke Pasadena Amerika Serikat, barulah mereka mulai belajar rock and roll.
Sebetulnya, Eddie lah yang belajar drum, sementara Alex belajar gitar. Akhirnya mereka bertukar alat musik dalam Mammoth, band awal yang mereka bentuk tahun 1972 . Mammoth juga diperkuat oleh Michael Anthony sebagai bassist, dan David Lee Roth yang menjadi vokalis. Mereka berganti nama menjadi Van Halen ketika mengetahui bahwa nama Mammoth ternyata sudah dipakai oleh sebuah band lain. Formasi ini bertahan hingga album 1984.
Van Halen malang melintang bermain di bar-bar seputar California selama beberapa tahun. Suatu hari di tahun 1977, Gene Simmons, frontman grup Kiss, melihat penampilan mereka dan terpukau. Gene Simmons tanpa ragu mendanai Van Halen membuat demo tape yang selanjutnya ia rekomendasikan ke perusahaan rekaman terkemuka Warner Bross.
Akhirnya, Van Halen merilis album pertamanya dengan judul Van Halen di tahun 1978. Piringan hitam album ini saya dapatkan kurang lebih dua bulan lalu, 7 dolar saja. Saya mampir ke toko Toad Hall sepulang mengantar anak ke dokter gigi. Melihat piringan hitam album ini terpampang di toko itu saya betul-betul gembira. Album perdana Van Halen ini adalah salah satu prioritas perburuan piringan hitam saya. Semua lagu-lagu dan album yang saya sebut diatas, bisa ditemukan cikal bakal sound-nya di album perdana ini. Album ini adalah satu-satunya album Van Halen yang masuk dalam list 500 Greatest Albums of All Time versi majalah Rolling Stone, berada di urutan 410.
Ketika dirilis, album ini mengejutkan karena menampilkan sound yang baru dan khas ala Van Halen. Album ini penuh dengan lagu-lagu dahsyat. Sebut saja “Runnin’ with the Devil”, “Aint Talkin’ bout Love”, (klik di sini) dan “Jamies Cryin’” (klik di sini). Dalam album ini, Van Halen juga meng-cover lagu dari katalog grup legendaris asal Inggris, The Kinks, yaitu lagu “You Really Got Me Now” (klik di sini).
Eddie Van Halen segera menjadi ikon gitar yang baru setelah album ini keluar. Terutama karena lagu “Eruption” yang menampilkan kemampuannya bersolo gitar yang tidak ada tandingannya ketika itu (klik di sini). Adalah hal yang pantas ketika majalah Rolling Stone dalam edisi 100 Greatest Guitar Songs of All Time (issue 1054, 12 Juni 2008) meletakkan “Eruption” dalam urutan 6.
Lagu lain dari Van Halen, “Panama” (dari album 1984) juga masuk dalam list 100 lagu dengan gitar terbaik sepanjang masa itu, di urutan 47. Pengakuan lain atas kehebatan Eddie Van Halen adalah ia menjadi satu diantara 8 ‘dewa’ gitar yang di wawancara khusus, ditampilkan profile-nya, dan fotonya di sampul depan majalah Rolling Stone edisi khusus itu. Dewa gitar lain yang ditampilkan dalam edisi khusus itu adalah Jimmy Page, B.B. King, Omar Rodriguez Lopez (dari kelompok kontemporer Mars Volta), Kirk Hammett, Carlos Santana, Buddy Guy, dan John Mayer.
Album perdana Van Halen melesat ke nomor 19, cukup hebat untuk album perdana sebuah band rock. Dalam album perdana ini kita bisa merasakan musik Van Halen yang sangat terasa rock-nya, lebih raw dibandingkan dengan album-album Van Halen lain yang saya sebutkan tadi. Dalam album perdana ini mereka terdengar sangat orisinal. Tidak banyak sentuhan perangkat elektronik seperti album-album mereka berikutnya (walaupun penggunaan synthesizer dalam lagu “Jump” justru menjadi ciri khas lagu itu). Ditambah lagi suara David Lee Roth yang lebih nge-rock dibandingkan dengan Sammy Hagar yang menggantikannya setelah album 1984 (tetapi jangan salah sangka, saya tetap sangat menyukai album-album Van Halen bersama Sammy Haggar).
Album terbesar Van Halen bersama David Lee Roth sebetulnya adalah album 1984, yang mencapai nomor 2 dalam urutan tangga album saat itu. Banyak orang mengatakan bahwa seharusnya 1984 menempati nomor 1. Namun, ketika itu Michael Jackson juga merilis album terbesarnya, Thriller. Dunia ketika itu betul-betul dikuasai sang raja musik pop.
Uniknya, lagu “Beat It” yang dianggap sebagai lagu terbaik dalam album Thriller itu juga menampilkan Eddie Van Halen. Dalam lagu itu, Eddie memainkan solo gitar yang memadukan musik bercorak heavymetal dan pop (klik di sini). Lagu “Beat It” ini ada dalam urutan 81 dalam list 100 Greatest Guitar Songs of All Time tadi.
Dengan demikian, tiga lagu yang menampilkan permainan gitar Eddie Van Halen diakui sebagai lagu dengan gitar terbaik sepanjang masa oleh majalah Rolling Stone. Tidak ada gitaris lain dengan jumlah lagu sebanyak itu dalam list tadi. Mungkin harus kita akui bahwa Eddie Van Halen adalah gitaris terbaik yang pernah ada. Sebagai grup, Van Halen juga sudah diakui sebagai salah satu band rock hebat. Mereka telah diabadikan dalam Rock and Roll Hall of Fame di pertengahan tahun 2007 lalu. Dan sejak 2007, David Lee Roth kembali menjadi vokalis Van Halen, tampil bersama di berbagai panggung.
philips vermonte
December 16, 2008 at 3:16 pm
wahhh teman seperjuanganku semasa SMP dan SMA Mr Vermonte… VH benar2 mengingatkan kembali masa2 lalu kita bersama…. VH is ROCKS!!!
December 16, 2008 at 11:22 pm
hehe…Adit…Gw inget pas kita SMA elu pernah manggung di SMA Pangudi Luhur, di PL Fair, bawain lagu Van Halen covering Pretty Woman-nya Roy Orbison, mantap..
Jaman SMP kita berdua punya band cupu, suka latihan lagu-lagu Van Halen (Jump, Why Can’t This Be Love) – juga Duran-Duran..hehehe – Sering latihan di studio Gang Potlot, yang suka nyetemin alat-alat yang mau kita pinjem si Bimbim, yang belakangan jadi drummer Slank yang tenar. Kita malah gak maju-maju…hahaha..good old days…