5 Album Piringan Hitam Yang Paling Sering Diputar
Oleh M. Taufiqurrahman
Saya khawatir kalau saya harus membuat daftar 10 LP yang paling sering saya dengarkan, saya akan segera kehabisan musik (dalam bentuk piringan hitam) untuk diulas dan akan segera kehilangan pekerjaan yang menyenangkan tersebut (mendengarkan musik, bukan menulis ulasannya). Oleh karena itu saya hanya akan membuat daftar lima album yang paling sering saya dengarkan, selama 2 minggu, 2 bulan atau mungkin 2 tahun terakhir. Daftar yang lain segera menyusul.
Bob Dylan, Blood On The Tracks (Columbia: 1974). Bob Dylan punya banyak album tentang perceraian atau berpisah dengan perempuan yang dia cintai, namun buat saya Blood On the Tracks adalah yang paling penting. Di sini, tidak seperti di album Desire dimana Dylan seperti meratapi perceraiannya dengan Sara Lownds dengan musik yang kelam diisi biola yang merintih misalnya, sang legenda musik ini menyanyi seperti orang yang sedang marah. Coba dengar lagu penuh amarah di Idiot Wind (klik di sini) Banyak yang bilang Dylan sedang mengutuk dirinya sendiri dengan kata Idiot itu. Tapi sebenarnya tidak apa-apa kalau perkawinan mereka berakhir, toh dari perkawinan itu sudah lahir Jakob Dylan yang kemudian juga meramaikan belantika musik rock dengan band yang (dulu) bagus the Wallflowers. Lagu ketiga di Side A; You’re A Big Girl dimulai dengan harmoni gitar yang selayaknya dimainkan dengan grand piano (untuk melihat klipnya, silahkan klik di sini).
Beirut, Gulag Orkestar (Badabing: 2006). Saya harus menunggu hampir 4 jam dibawah udara dingin kota Chicago yang menusuk tulang hanya untuk mendapatkan LP album bersejarah ini, tapi penderitaan itu terbayar juga dengan bisa memiliki dan mendengarkan mahakarya baru musik indie ini. Beirut adalah band satu orang, anak muda bernama Zach Condon yang lahir di New Mexico kemudian pindah ke New York. Anak muda ini bisa dikatakan sangat jenius, karena umur belasan tahun dia sudah bisa bikin album utuh dan dirilis walaupun tidak untuk pasar umum. Nah di umur 16 tahun dia bersama kakaknya jalan jalan ke Eropa dan disana dia jatuh cinta dengan musik Eropa timur. Kecintaan ke musik Eropa timur ini kemudian dia tuangkan di Gulag Orkestar. Di sini anda akan dengar musik musik Balkan dan sebagian besar mengingatkan saya ke musik jazz maestro dari Yugoslavia Boban Markovic. Namun kalau musik Markovic agak kompleks dan sulit dikatakan indah, Beirut membuatnya menjadi liris dan di banyak bagian malah lebih bisa menangkap suasana dan ghirah dari tempat tempat seperti Bratislava, Brandenburg atau Rhineland. Tidak seperti David Byrne dari Talking Heads yang hanya secara tipis menyalin bunyi gamelan jawa di Talking Heads:77, di Gulag Orkestar, Condon mambawakan musik Eropa Timur secara utuh namun tetap bisa dicerna dengan mudah, anda bahkan bisa ikut berdansa di lagu semacam Idle Days (Mount Wroclai).
The Byrds, Younger Than Yesterday (Columbia: 1967). Ini album the Byrds yang paling terakhir saya peroleh dan kemudian bisa saya gunakan untuk membandingkan dengan karya mereka yang lain. Sweetheart of the Rodeo, album ke lima mereka terlalu country, album pertama Mr. Tambourine Man terlalu bagus karena masih sangat dipengaruhi oleh Dylan, sedangkan Fifth Dimension terlalu psychedelic. Nah, Younger Than Yesterday ada di tengah-tengah album-album besar mereka. Album ini punya lagu Dylan yang dirubah menjadi sangat liris dan gelap Younger Than Yesterday lengkap dengan gitar Roger McGuinn yang berbunyi bening bak lonceng gereja. Album ini juga punya beberapa lagu psychedelia yang mengingatkan saya kepada beberapa lagu Beatles dan kecenderungan mereka memutar reel rekaman secara terbalik.
The Libertines, Up the Bracket (Rough Trade: 2005). Menurut saya ini adalah band anak muda terakhir yang masih berarti dan seperti biasa sekali berarti habis itu mati. Setelah the Strokes, ini adalah band anak muda yang masih saya bisa anggap sebagai penyelamat rock and roll, meskipun pada akhirnya mereka tidak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri. Beberapa orang bilang ini adalah band punk Inggris yang paling berarti setelah the Clash dua puluh tahun yang lalu. Tidak heran kalau album debut ini diproduseri oleh Mick Jones, gitaris the Clash. Dan lain dengan the Strokes yang bermain secara rapi dan disiplin, musik di Up the Bracket terasa berantakan dan sangat tergesa gesa, namun disitu kita bisa mendengar bahwa itu menjadi semacam katarsis bagi kemarahan, ketidakpuasan, atau semua emosi yang tidak bisa disalurkan (agak tidak patut memang kalau orang setua saya masih harus mendengarkan musik semacam ini) namun justru disitu kita bisa menemukan otentisitas dari musik the Stooges, the Sex Pistols atau the Clash. Sebenarnya permainan gitar Carl Barat biasa biasa saja tapi justru keterbatasan itu malah bisa membuat semangat bermusik mereka bersinar sangat kuat. Coba dengar gitar solo patah patah di Time for Heroes di tengah lagu dan susah untuk tidak memalingkan muka untuk memberi perhatian penuh (klik di sini). Namun sayang, sang vokalis Pete Doherty terlalu sibuk dengan narkoba dan Kate Moss dan akhirnya the Libertines bubar setelah hanya punya dua album. Album kedua mereka the Libertines hanya bayang bayang kebesaran album pertama ini. Oh ya, gambar sampul yang direproduksi dari foto jurnalistik wartawan the Associated Press yang menangkap siluet empat orang polisi anti huru hara juga salah satu icon baru generasi post-millenium.
Leonard Cohen, The Songs of Leonard Cohen (Columbia: 1967). Apa lagi yang bisa saya katakan tentang album penting ini? Perlu waktu yang sangat lama untuk bisa menulis 100-halaman kritik musik untuk album ini. Namun yang pasti dibandingkan Songs of Love and Hate, album ini lebih megah, baik secara tema maupun secara musikalitas. Puisi puisi Cohen di album ini, terutama di lagu Teachers, sangat magis—untuk tidak mengatakan surreal—dan seandainya Cohen hanya membacakan lirik itu tanpa musik, imaji yang keluar saja sudah cukup untuk mengisi satu auditorium, apalagi ditambah dengan slide flamenco yang sangat mengiris hati, mungkin Stalin pun akan jatuh berlutut mendengar lagu ini (klik di sini). Semua lagu di side A, Suzanne, Master Song, Winter Lady, the Stranger Song dan Sister of Mercy adalah lagu lagu yang mendirikan bulu roma, karena keindahan musik yang sederhana bisa sangat kuat menggugah perasaan (klik di sini, di sini, dan di sini). Bagi anda yang tinggal di belahan bumi utara ketika musim dingin, saya peringatkan jangan terlalu sering memutar album ini.
(klik di sini)