10 Piringan Hitam Itu

Oleh Rizal Shiddiq

Beberapa hari lalu,  Philips telpon menanyakan soal hutang tulisan saya di blog sontoloyo ini tentang daftar album yang paling sering saya putar belakangan. Sebenarnya agak susah mendefinisikan “sering diputar” sebab baru-baru ini saya memilih vinyl untuk diputar tanpa pikir panjang, keburu habis energi di otak untuk hal-hal lain yang lebih penting yang seringkali terlewat –misalnya kapan saatnya mesti membuang sampah atau memasukkan pelembut pakaian ke dalam mesin cuci –. Tapi OK lah, tanpa basa-basi lagi, ini daftarnya:

1. Bill Evans, The Village Vanguard Sessions (Milestone, 1961). Ada dua lagu yang paling saya sukai. Pertama, Alice in Wonderland. Lagu standar yang paling bagus dibawakan Bill Evans ini selalu menjadi favorit saya dan Sisil karena mempunyai efek menenangkan yang amat tinggi. Yang kedua, barangkali juga sudah dikenal para penggemar jazz: “Waltz for Debbie” (klik di sini). Klub Village Vanguard di New York adalah tempat tujuan wisata yang ingin kami datangi suatu saat nanti.

2. newquintetmiles Miles Davis, Miles, The New Miles Davis Quintet (Prestige, 1955). The Keynes of Jazz (menurut Aco, yang juga jazz aficionado dari Cafe Salemba), Miles Davis adalah pemain jazz kesukaan Lintar (8 bulan). Lagu-lagu Miles Davis menjadi pengantar tidur favoritnya. Saya sendiri heran kenapa di antara sekian banyak musisi, Lintar memilih Miles Davis. Yang paling ia sukai, sayangnya saya belum punya dalam bentuk vinyl, adalah “Flamenco Sketches “(klik di sini dan versi alternate nya di album jazz terbaik sepanjang masa, Kind of Blue). Lagu favorit di album Miles yang ini: “Just Squeeze Me”. Album ini pernah saya bahas di Cafe Salemba.

3. stonesbanquet Rolling Stones, Beggar Banquet (London, 1968). Saya baru belakangan mendengarkan Rolling Stones dengan seksama dan ternyata amat menyukai berandalan-berandalan Inggris yang kini mulai tua itu. Memang amat terlambat, tapi salahkanlah produser kaset-kaset kompilasi tempo dulu itu dan radio-radio yang hanya memutar hit-hit mereka yang ternyata tak sebaik lagu-lagu lain di versi lengkapnya. Album paling politis Stones ini saya rasa album terbaik mereka. Lagu favorit: “Simpathy for the Devil” (klik di sini dan “Street Fighting Man” (klik di sini).

4. evansparis Bill Evans, Paris Concert 1 dan 2 (Blue Note, 1983). Ini dua album yang, apa ya, religius atau surreal. Sangat sesuai didengarkan pada jam dua dini hari sambil mengerjakan term paper atau disertasi, ya atau ngobrol ringan-ringan. Album ini semacam puncak spiritualitas Bill Evans dan ia berhasil mengangkat aura Paris yang lain di sini: sebuah Paris yang tua, sepi, dan sedikit lelah, bukan yang gemerlap seperti yang selama ini dibayangkan Hollywood. Ibarat gedung Moulin Rouge di sore hari sehabis hujan. Atau, seperti yang digambarkan dalam film-film Perancis sendiri. Lagu favorit “Re: Person I Knew” (klik di sini) dan “Gary’s Theme”

5. evansmontreux Bill Evans, At the Montreux Festival (Verve, 1968). Ini salah satu album yang baru-baru ini saja saya dapat dari toko vinyl semprul langganan saya itu. Trio Bill Evans dengan Jack de Johnette dan Eddie Gomez ini asyik betul didengarkan sambil membayangkan menonton jazz di pinggir danau. Tak perlu di Swiss, di pinggir danau UI di Depok sana pun jadi. Apalagi, setahu saya, akustik aula Pusat Studi Jepang memadai untuk jazz yang bagus. Lagu favorit: Embraceable You. Eddie Gomez main bass nya maut di lagu ini.

6. milesmonknewport Miles and Monk, At Newport (Columbia 1963) Ini sebenarnya album penampilan dua raksasa jazz yang main di festival Newport pada waktu yang berbeda. Miles, Coltrane dan Adderley, tentu saja jaminan mutu. Tapi di album ini dua lagu kolaborasi Pee Wee Russell dengan Thelonious Monk, “Nutty” (klik di sini) dan “Blue Monk” (klik di sini) menjadi juaranya. Lagi-lagi, album ini juga favorit si Lintar. Monk bermain piano dengan cara yang khas: cenderung sederhana dan lebih “mentah” ketimbang Bill Evans, tetapi tetap sangat bagus.

7. weekendvampire Vampire Weekend, Vampire Weekend (XL, 2007). Kelompok musik yang pemainnya lulusan Columbia ini seperti menunjukkan bahwa makan sekolahan itu tidak selalu identik dengan membosankan. Lagu-lagu mereka, walaupun menurut argumen Sisil terdengar seperti musik kuda lumping, asyik untuk di dengarkan pagi-pagi. Kental dengan warna Afrika, kelompok ini menurut saya justru berhasil karena mengangkat Afrika untuk bergembira, tanpa terjebak retorika politik yang terlalu berat. Lagu favorit: “Oxford Comma” (klik di sini) dan “Campus” (klik di sini).

8. ellingtonelacote Ella Fitzgerald and Duke Ellington, At the Cote D’Azur (Verve, 1967). Ella barangkali salah satu vokalis jazz yang pernah ada. Dan bernyanyi diiringi Duke Ellington tentu saja jadinya sebuah gabungan yang menarik di dengarkan. Ella menyanyikan “So Dance Samba” (klik di sini) tak kalah bagus dari dedengkotnya: Getz, Gilberto, Jobim. Selain juga musik big band The Matador (El Viti) dari Duke Ellington Orchestra, yang suasananya seperti mau terjadi pembunuhan di film-film mafia.

9. jarretkoln Keith Jarrett, Koln Concert. (ECM, 1975) Nah, kalau ini adalah soundtrack pagi hari yang sesungguhnya. Begitu bangun tidur, pasang part I dari vinyl ini, lantas mulailah kegiatan pagi, mulai dari menggosok gigi, mandi, menyeduh kopi, sarapan sereal, dan memasukkan buku-buku yang perlu dibawa ke dalam tas. Pas dua puluh enam menit, dan siap berangkat. Ada empat bagian dalam album ini, tapi yang paling sering saya dengarkan bagian pertama. Katanya sih, musik ini mewakili kegelisahan generasi tahun 70 an. Ini yang saya temukan di youtube, “Part I” (sayang hanya 10 menit, klik di sini)

10. smithlouder The Smiths, Louder than Bombs (Sire, 1987). Ini juga kelompok bagus yang saya tahunya telat. Gara-gara tulisan Taufik soal album the Queen is Dead, saya jadi penasaran dan kebetulan seorang bernama Valerie, melego kedua album vinyl itu. Saya tahu namanya karena ia tuliskan di sampul albumnya, dan tentu saja membuat harganya menjadi turun tajam, sehingga saya bisa membeli keduanya. Dan Taufik benar, The Smiths lagu-lagunya asyik dan liriknya jenaka, terutama dengan humor getir Inggris yang rada garing itu. Misalnya lagu “Shoplifter Around the World Unite” (klik di sini) atau “William, It Was Really Nothing” (klik di sini)

Leave a Reply