Gemuruh Rock and Roll dari London: Up the Bracket

Oleh M. Taufiqurrahman

libertinecover Saya selalu skeptis dengan penerbitan musik Inggris. Mereka terlalu bombastis dan dangkal. Mungkin setiap bulan sekali menisbatkan bahwa band A adalah band terbesar sepanjang masa, atau album B adalah album terbaik sepanjang masa, atau penyanyi C adalah penyanyi baru terbaik yang hendak menggantikan posisi Robert Plant atau Dusty Springfield. Coba perhatikan ketika mereka menobatkan the Arctic Monkeys sebagai band yang hendak mengambil alih tahta kekuasaan the Beatles hanya karena mereka menjual album debut paling banyak di minggu pertama setelah the Beatles. Kemana mereka sekarang?

Atau ketika mereka mengatakan bahwa Oasis akan lebih besar dari the Beatles (lagi!) dan Liam Gallagher adalah inkarnasi John Lennon. Terakhir saya periksa, Oasis hanya bisa manggung di venue-venue kecil bersama Ryan Adams. Atau ketika majalah Q menempatkan dua album Oasis What’s the Story (Morning Glory) dan Definitely Maybe sebagai album terbaik nomer dua dan nomer satu sepanjang masa dari artis Inggris dan menempatkan album Joy Division Unknown Pleasure di nomer 49 untuk daftar yang sama. Ini sih sudah keterlaluan.

Bagi saya penerbitan musik Inggris hanya pernah benar dalam dua hal. Yaitu ketika Alan Licht dari the New Musical Express (NME) memberi lima bintang untuk Marquee Moon (yang ini sudah pernah saya bahas), dan ketika di awal millennium ini mereka meributkan band anak muda baru bernama the Libertines. Ya meski pada waktu itu ribut-ributnya juga karena ada pembaharuan gaya bermusik yang ditiupkan oleh rekan-rekan mereka dari seberang Atlantik dari band bernama the Strokes (ini juga sudah terlalu sering saya bahas)—namun tidak apa-apa toh pada akhirnya penilaian mereka terhadap the Libertines benar.

Pada awal millennium ini terjadilah sebuah pembaharuan bermusik yang banyak disebut sebagai garage-rock revival. Pada waktu itu bermunculan band-band anak muda yang memainkan musik-musik retro dari era-era pertengahan kejayaan rock and roll akhir 1960-an dan 1970-an. Anak-anak muda ini begitu fasih memainkan musik retrograde ini sampai sedemikian rupa sehingga generasi sekarang menganggap ini sebagai sesuatu yang otentik. Di Amerika Serikat waktu itu ada the White Stripes, Yeah Yeah Yeahs, the Raptures dan untuk yang tidak terlalu bagus ada band semacam the Bravery yang pernah main di Jakarta. Dari daratan Eropa ada the Hives atau the Raveonettes. Di Jakarta sendiri waktu itu yang banyak dibicarakan adalah the Brandals, serta the S.I.G.I.T.

Nah di Inggris sendiri waktu itu anehnya cuma the Libertines ini yang bisa dikatakan bisa menjadi perwakilan garage rock revival, dan oleh karena itu media musik Inggris segera menobatkan mereka sebagai raja baru rock and roll. Lepas dari layak tidaknya mereka mendapat gelar itu, bagi saya tidak penting karena bagi saya yang cuma berarti dari the Libertines adalah musik mereka yang punya jati diri. Masa keemasan garage rock revival memang sudah lewat. Namun kalau ada penanda terbaik dari masa itu album pertama the Libertines layak untuk menjadi kandidat utama.

Sama seperti ketika anda menyebut nama Jeff Buckley dan orang yang cukup mengenal Jeff akan menanggapi dengan mata berbinar namun penuh kesedihan dan kemudian berbicara dengan suara yang pelan. Ketika anda mengucapkan kata the Libertines, teman yang anda ajak bicara dan cukup mengenal band ini akan segera menjabat tangan anda sebelum berdiskusi tentang gitar solo di Time for Heroes yang biasa-biasa saja itu. Atau mungkin ketika menyebut kata the Libertines anda akan segera mengingat Marquis de Sade atau John Wilmot, para pemuja kenikmatan ragawi tanpa peduli dengan moral agama atau hukum hukum sosial. Atau malah ingat dengan Johnny Deep yang memainkan karakter Wilmot, bangsawan dari Rochester yang menjadi penyebar paham tersebut. Dengan nama yang berani dan sarat nilai tersebut, dahulu sebelum saya mendengar musiknya saya sudah bisa menduga kalau kelompok musik ini bukan band main-main.

Ada empat orang di dalam kelompok musik the Libertines, namun tentu saja tulang punggung mereka adalah penyanyi Pete Doherty dan gitaris yang kadang kadang menyanyi Carl Barat. Hubungan kedua anak muda ini sangat dekat dan bahkan sampai kepada taraf homoerotis, seperti Batman dan Robin. Banyak yang mengatakan mereka adalah jelmaan Joe Strummer dan Mick Jones dari the Clash, atau Mick Jagger dan Keith Richard (the Rolling Stones), atau Morrissey dan Johhny Marr dari the Smiths, karena kedekatan batin dan musikalitas.

Musik ciptaan Barat hanya bisa hidup dengan vokal Pete Doherty. Coba perhatikan lagu pertama di side A Vertigo. Di situ ada tiga elemen penting: gitar Carl Barat yang sangat liar, vokal Pete Doherty, dan harmoni vokal Carl Barat yang sangat cair menyatu (klik di sini) Saya perhatikan Julian Cassablanca dan Albert Hammond Jr. dari the Strokes saja jarang bisa mencapai taraf itu. Nah yang paling penting tentu di lagu “Time for Heroes”, gitar solo di tengah lagu itu seperti bisa menangkap kegelisahan Pete Doherty, apapun arti kegelisahan itu (klik di sini). Gitar ritme di lagu itu juga seperti dialog antara Barat dan Doherty. Pemain bass Johnny Hassal dan Gary Powell tidak bisa disepelekan karena mereka seperti menjadi jangkar yang siap menarik kembali kedua kapal besar yang setiap saat bisa karam. Begitu organiknya musik the Libertines meskipun di permukaan yang kita dengar seperti karya berantakan yang diciptakan tergesa gesa. Seperti band-band lain yang lahir setelah pergantian abad, dari segi lirik lagu sih tidak banyak yang bisa dipetik dari the Libetines, namun dengan musik seperti mereka nampaknya lirik tidak penting lagi.

Jadi tepat kalau kemudian album the Libertines pertama Up the Bracket di rilis oleh perusahaan musik independen Rough Trade, yang dulu memayungi the Smiths dan pada saat yang sama dengan Rough Trade menjadi label untuk the Strokes untuk pasar Inggris. Dan memang lebih baik Rough Trade yang menangani mereka karena saya yakin tidak banyak label besar yang mau menanamkan modal untuk orang seperti Pete Doherty yang destruktif dan siap mengancam kelangsungan hidup the Libertines kapan saja. Setelah Up the Bracket, Pete dan Carl lebih sering bertengkar sampai akhirnya Pete masuk penjara, salah satunya karena mencuri barang di rumah Carl Barat.

Saya sudah lupa bagaimana mendengar Up the Bracket untuk pertama kali namun saya masih ingat di Jakarta ketika CD bajakan itu tidak bisa saya temukan saya sangat sedih dan baru dua bulan lalu ketika istri saya membawakan piringan hitam Up the Bracket dari Minneapolis. Ini juga resiko tinggal di kota kecil, untuk mendapatkan LP begitu penting saja harus di impor dari negara bagian lain. (Nietzsche boleh mengatakan bahwa dia dilahirkan terlalu cepat sebelum masanya siap. “I wasn’t made for this time”, kata dia, kalau saya boleh bilang I wasn’t made for this place, selalu berada di tempat yang salah, ah tapi sudahlah).

Meskipun the Libertines cuma punya dua album utuh, beberapa bulan yang lalu Rough Trade merilis album kumpulan lagu terbesar mereka, mungkin untuk menutup kerugian dagang. Memang banyak lagu dari Up the Bracket yang dimuat kembali di album itu, namun sebaiknya kalau ingin mengenal the Libertines lebih baik (dan mengingat saat saat ketika hidup jauh lebih mudah) coba cari album pertama tersebut.

Ralat: Di tulisan terdahulu saya menulis kalau Up the Bracket di rilis tahun 2005, yang benar adalah tahun 2002.

Leave a Reply