Vampire Weekend: Simbol Musik Generasi Internet

vweekend Adalah suatu kebetulan ketika untuk pertama kalinya saya mendengar lagu-lagu karya Vampire Weekend lebih dari enam bulan lalu, saya juga baru saja mendapatkan album piringan hitam Graceland karya Paul Simon yang terkenal itu. Musik folk Afrika yang bertaburan dalam album Graceland itu juga mempengaruhi musik Vampire Weekend. Tidak mengherankan apabila banyak orang yang seketika membandingkan album perdana self-titled Vampire Weekend dengan album Graceland yang berjarak lebih dari 20 tahun.

Tentu banyak yang kecewa ketika menemukan bahwa dua album dari pemusik dari generasi berbeda ini tidak bisa dibandingkan begitu saja. Agak mengherankan bagi saya ketika banyak yang menyatakan bahwa album Vampire Weekend tidak sepadan untuk dibandingkan dengan Graceland, karena Graceland dianggap jauh lebih ‘bermutu’.

Saya mengagumi album Graceland (album Graceland pernah saya tulis di blog ini), namun saya juga sangat menikmati album Vampire Weekend. Mereka yang menganggap Vampire Weekend tidak sepadan dengan Graceland umumnya menunjuk pada kenyataan bahwa Paul Simon dalam Graceland menampilkan kemampuan teknik bermusik yang lebih tinggi, komposisi jauh lebih rumit dan kaya daripada lagu-lagu dalam album Vampire Weekend. Dengan kata lain, teknik bermusik yang sophisticated adalah bagian integral dari album Graceland. Karena kehebatan Paul Simon lah maka album Graceland tetap bisa dinikmati banyak orang.

Justru kekuatan album Vampire Weekend ada pada kesederhanaan musiknya. Para personil Vampire Weekend; Ezra Koenig, Rostam Batmanglij, Chris Tomson dan Chris Baio; adalah penikmat musik-musik rakyat Afrika, namun mereka sejatinya tidak sedang menyuguhkan musik Afrika. Mereka sedang menyajikan sebuah musik anak-anak muda yang simple dan for fun. Sebaliknya, Paul Simon dan Graceland sedang berusaha menyuguhkan elemen musik Afrika untuk, dengan penuh kesadaran, melawan politik apartheid di Afrika Selatan. Selain nuansa musik Afrika, dalam Vampire Weekend kita sangat bisa merasakan pengaruh musik punk dan juga ska yang cukup kental.

Kita tentu ingat bahwa musik punk disukai banyak orang terutama karena kesederhanaannya. Maka beredar pameo, yang mungkin tidak sepenuhnya benar, bahwa musik punk adalah musik tiga jurus alias berbasis pada tiga chord gitar. Pada bulan Oktober tahun 2007, majalah musik SPIN menerbitkan edisi khusus berjudul “1977: the Year Punk Exploded”. SPIN mewawancarai para pemusik besar punk, seperti Johnny Rotten (Sex Pistols), Alan Vega (Suicide), Debbie Harry (Blondie), dan Dick Manitoba (Dictators). Mereka ditanya apa yang sebenarnya menjadi spirit musik punk. Tentu jawaban seragamnya adalah semangat pemberontakan. Namun ada satu hal penting lainnya dari musik punk adalah spirit bermusik yang sederhana. Dick Manitoba menceritakan sepenggal pertemuannya dengan personil The Ramones, band yang melegenda di kalangan komunitas musik punk. Manitoba mengajak Ramone membuat lagu bersama, dan inilah dialog yang dikisahkannya:

“Well, why don’t you bring out your guitar?” And he (Joey Ramone) says, “I don’t want to bring it out”. I said, “C’mon, man!” So he brought it out, and it had two strings on it. I said, “Where are the rest of the strings?” And he says, “Well, I worked really hard learning how to play those two.” He wrote his songs on two strings! It shows you the simplicity and the melody and the drive. Guitarists now play like they’re playing video games. It’s all virtuosity. But we (in 1977) had melodies and ideas.

Tidak mengherankan kalau gitaris kelompok the Ramones dikenal sebagai gitaris yang tidak menyukai solo gitar, karena sepertinya baginya musik bukanlah untuk unjuk kemampuan teknik yang tinggi, tapi lebih untuk ekspresi kesenian.

Begitulah. Musik bergaya punk yang dibawakan Vampire Weekend memang terdengar simple, namun melodius. Sepertinya pilihan untuk bermusik secara simple diambil bukan karena kemampuan bermusik mereka dibawah rata-rata. Ezra Koenig, vokalis sekaligus gitaris Vampire Weekend, adalah juga pemain saxophone. Sebelumnya ia bergabung dengan sebuah jazz band di kota New York. Ezra Koenig aktif bermain band sejak masa SMA, terutama bersama band-band yang membawakan musik-musik beraliran ska dan punk.

Saya rasa, Vampire Weekend memberi definisi baru bagi musik indie dan musik anak-anak muda kontemporer. Atau lebih tepatnya mereka justru lebih menyederhanakan makna “indie”, yang mungkin sebelumnya dibebani konsep-konsep ideal dan ideologis seperti anti kemapanan, anti korporasi, dan anti mainstream. Indie dalam pengertian sebelumnya seperti musik yang harus di-launch dari pinggir panggung besar musik.

Para personil Vampire Weekend bertolak belakang dari image komunitas indie. Mereka adalah bagian dari kalangan yang memiliki privilege, bisa kuliah di Columbia University yang merupakan salah satu universitas paling dihormati di Amerika Serikat. Bila harus membayar kuliah sendiri, tentu mahasiswa Columbia University harus berasal dari keluarga kaya. Bila mendapat beasiswa, mereka pastinya memiliki prestasi sekolah yang lebih baik dari batch-nya. Ditambah lagi bahwa mereka memulai musiknya di New York, salah satu pusat kebudayaan dunia, bukan pinggiran.

Mungkin yang mendefinisikan Vampire Weekend sebagai band indie adalah bahwa band ini tidak memilih jalur mainstream dalam mengabarkan musiknya. Mereka, seperti umumnya anak muda sekarang, akrab dengan internet dan seluruh fitur-fiturnya. Lagu-lagu dalam album debut Vampire Weekend yang dirilis tahun 2008 ini sudah tersebar luas melalui internet dan berbagai blog, bahkan sebelum album itu dirils.

Situs Myspace adalah situs utama bagi ribuan band diseluruh dunia untuk mengenalkan karya musik mereka masing-masing. Dalam situs Myspace kita juga bisa menemukan banyak band-band Indonesia, seperti Cozy Street Corner atau Sore, yang keduanya sangat asyik dan menghanyutkan itu. Ribuan band dari seluruh dunia meng-upload lagu-lagu karya mereka di sana untuk didengarkan banyak orang (dua orang yang saya kenal juga memiliki space di situs Myspace untuk band mereka. Seorang teman saya masa SMA di Jakarta, Farid Ariadno dengan band metalnya Kaporit bisa diakses di www.myspace.com/kaporitband dan seorang lagi adalah mantan mahasiswa saya di Jakarta, Fathun Karib dengan band-nya yang juga metal, Cryptical Death, bisa diakses di www.myspace.com/crypticaldeath – Farid dan Karib, kapan-kapan gw tulis deh di sini…hehe).

Sejak tahun 2006 lagu-lagu Vampire Weekend telah beredar dan dengan cepat fans base mereka terbentuk. Myspace adalah medium utama yang digunakan Vampire Weekend. Yang juga menarik, Vampire Weekend mengirimkan sampel-sampel lagunya ke blog-blog musik. Tentunya dengan keinginan blog-blog itu menulis feature mereka. Dan memang itulah yang terjadi.

Sebuah blog terkenal, Stereogum, menerima kiriman CD berisi beberapa lagu Vampire Weekend di tahun 2006. Tidak lama kemudian, langsung muncul artikel di blog itu berjudul “Band to Watch: Vampire Weekend”. Memang di Amerika blog semakin lama menjadi medium berita yang semakin berpengaruh. Pada beberapa kasus mungkin mengalahkan media mainstream baik cetak atau elektronik. Seperti pernah saya tulis dalam posting terdahulu, Pitchfork adalah sebuah media musik online bergaya blog yang disegani. Di bidang berita politik, media online bergaya blog juga semakin populer menjadi alternatif sumber berita. Sebut saja The Huffingtonpost, Salon, dan juga Slate.

Karena itulah, apa yang dilakukan Vampire Weekend saya rasa adalah representasi generasi musik kontemporer yang sangat mengakrabi internet. Bahkan beberapa media musik, seperti majalah SPIN tadi, menjadikan Vampire Weekend sebagai cover story ketika band ini belum merilis albumnya di tahun 2008. Selain itu The Shins, band indie terkenal lainnya, mengajak Vampire Weekend tur dalam konser mereka ke Inggris diakhir tahun 2007. Dengan kata lain, Vampire Weekend telah populer sebelum albumnya secara fisik dirilis. Thanks to the internet!

Untuk melengkapi posting ini, Ezra Koenig pernah mengomentari kritik terhadap musik mereka yang dianggap simple dan hanya menampilkan teknik bermusik yang biasa-biasa saja. Ezra Koenig bilang: “Ya, saya banyak mendengarkan dan mempelajari para pemusik hebat, semisal Eric Clapton. Saya mengagumi mereka dan teknik bermusiknya. Tetapi ditelinga saya musik mereka terdengar membosankan”.

Walau saya tidak sependapat dengan Ezra Koenig bahwa Eric Clapton membosankan, tetapi saya sependapat dengannya bahwa musik harus membuat orang yang mendengarkannya menjadi gembira dan merasa hidup lebih cerah. Seperti bisa kita nikmati dalam lagu-lagu Vampire Weekend yang berjudul A-Punk (klik di sini atau bila ingin melihat penampilan live di David Letterman, klik di sini), Mansard Roof (klik di sini), Cape Kod Kwassa-Kwassa (klik di sini), Oxford Comma (klik di sini), atau Campus (klik di sini). Lagu-lagu ini lagu dengan beat riang, dan Ezra Koening bernyanyi dengan ringan dengan beragam snapshot tema: dari kalah perangnya tentara Argentina (dalam Mansard Roof – the argentines collapse in defeat, the admiralty surveys the remnants of the fleet, the ground beneath their feet, is nautically-mapped sheet, as thin as paper while it slips away from view), hingga tentang romantika kampus (dalam Campus – then i see you, you’re walking cross the campus, cruel professor studying romances, how am i supposed to pretend, i never want to see you again?). Musik Vampire Weekend begitu menyenangkan. Yang sedang muram mungkin akan riang kembali, yang marah akan calm down, yang sedang low menjadi spirited kembali. Sepertinya itulah esensi musik, membuat orang gembira, seperti musik Vampire Weekend ini.

Tidak mengherankan kalau majalah Rolling Stone dan juga portal Pitchfork menjadikan album ini sebagai salah satu album terbaik tahun 2008.

philips vermonte

ps: untuk yang berada di jakarta, kabarnya piringan hitam album perdana Vampire Weekend ini tersedia di toko buku Aksara di Kemang Jakarta Selatan

Leave a Reply