Harmoni dan Inspirasi dalam Album Fleet Foxes

Dalam tradisi akademik di Barat, ada ungkapan terkenal ‘standing on the shoulder of giants’. Metafora ini berasal dari bahasa Latin nanos gigantum humeris insidentes yang bermakna “one who develops future intellectual pursuits by understanding the research and works created by notable thinkers of the past”. Bahwa karya akademik selalu terinspirasi dan dibangun diatas karya-karya akademik sebelumnya. Dalam ilmu politik, salah satu giant itu adalah Professor Samuel Huntington, yang meninggal dunia pada tanggal 27 Desember lalu dalam usia 81 tahun.
Karya-karya Huntington, menurut saya, ditulis dengan amat baik dan argumen yang terang. Dalam studi perbandingan politik (comparative politics), sebuah sub-disiplin dari ilmu politik, karya-karya Huntington adalah dasar bagi studi-studi lanjutan, dimana ilmuwan politik yang belakangan membangun karya-karyanya diatas buah pemikiran Huntington.
Buku pertama yang ditulis oleh Huntington sangat berpengaruh, khususnya bagi para pengkaji hubungan sipil militer. Buku itu berjudul The Soldier and The State: The Theory and Politics of Civil Military Relations (1957). Buku ini menimbulkan kontroversi, karena di dalamnya Huntington berargumen bahwa militer yang konservatif diperlukan untuk melindungi kebebasan sipil masyarakat Amerika yang liberal. Padahal yang dimaksud Huntington adalah militer yang menyadari bahwa ada kelemahan natural berupa irasionalitas dan evil dalam diri setiap individu yang bebas. Demikian kontroversialnya buku ini hingga Huntington, bersama sejawatnya Zbigniew Brzezinski (belakangan menjadi penasihat Presiden Jimmy Carter) ditolak menjadi pengajar tetap di Harvard, mereka berdua “mengungsi’ ke Columbia University. Toh, empat tahun kemudian keduanya diundang untuk kembali mengajar di Harvard. Huntington memutuskan untuk kembali, sementara Brzezinski memilih tetap di Columbia.
Buku lain yang sangat kontroversial tentu saja adalah The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996). Thesis Huntington mengenai perbenturan peradaban seolah menjadi self-fulfilling prophecy, apalagi setelah peristiwa 11 September 2001. Padahal, Huntington justru mengingatkan bahwa dunia tempat kita tinggal ini sangat majemuk dengan beragam peradaban. Seperti pernah saya tulis (klik di sini), Huntington menyodorkan skenario konflik antar peradaban untuk mengingatkan Amerika Serikat untuk tidak berilusi menjadi penguasa dunia dan mengabaikan suara-suara yang lain. Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa Samuel Huntington adalah salah seorang ilmuwan yang menentang dengan keras agresi Amerika Serikat ke Irak sejak awal.
Dua karyanya yang lain yang dibaca luas penstudi ilmu politik adalah sebuah buku berjudul Political Order in Changing Societies (1968) dan sebuah artikel sangat berpengaruh yang dimuat di jurnal Comparative Politics (April 1971) berjudul “The Change to Change: Modernization, Development, and Politics”. Dalam dua karya ini Huntington mendedahkan kritiknya pada paradigma modernisasi. Paradigma ini meyakini bahwa modernisasi melalui pertumbuhan ekonomi di negara berkembang akan menghasilkan demokrasi yang stabil dan menciptakan harmoni dalam masyarakat. Huntington dengan tajam menunjukan bahwa modernisasi di negara-negara berkembang membawa konsekuensi lain yaitu meningkatnya partisipasi politik dan tuntutan warga negara. Menurutnya, ledakan partisipasi politik yang dibawa oleh proses modernisasi akan menjadi sumber masalah akut karena umumnya negara-negara berkembang (ketika dua karya ini ditulis) mengabaikan pelembagaan proses-proses politik. Alih-alih melahirkan stabilitas dan harmoni, yang mungkin akan muncul adalah instabilitas politik ataupun kediktatoran untuk meredam instabilitas politik itu karena institusi negara di negara-negara berkembang tidak mampu mengelola tuntutan partisipasi yang meluas.
Bersama keluarga saya nongkrong di toko buku Borders dua hari lalu. Sambil ngopi,seperti biasa saya menyempatkan membaca beberapa majalah (ya terutama majalah musik..hehe). Hampir semua majalah edisi bulan Desember menulis tentang sebuah band baru, Fleet Foxes, yang dipuji karena album pertama mereka yang indah yang dirilis bulan Juni 2008. Beberapa otoritas musik, misalnya Pitchfork dan juga majalah musik Mojo, menempatkan album self-titled Fleet Foxes dalam posisi pertama untuk album terbaik 2008.
Lagu-lagu Fleet Foxes menampilkan olah vokal yang harmonis dan bergaya pastoral. Mereka seolah menghidupkan kembali band legendaris The Beach Boys yang terkenal karena harmoni vokal yang serupa.
Persoalan harmoni dan kediktatoran yang dipikirkan Huntington ya bisa ditemukan juga dalam dunia musik. Tentu harmoni seperti dalam album Fleet Foxes ini hanya bisa dicapai bila tidak ada anggota band yang ingin menonjol sendirian. Sejarah musik rock and roll menunjukan banyak band hebat bubar atau berganti-ganti personil karena banyak dari mereka menghadapi konflik internal untuk memperebutkan kontrol, atau bila seorang anggota band, biasanya frontman, berlaku bak diktator. Sebut saja The Beatles, Guns N’ Roses dengan figure Axl Rose di dalamnya, juga grup Eagles yang selalu berganti-ganti personil, dan masih banyak lagi. Dan saya menduga, harmoni vokal Fleet Foxes hanya bisa ditampilkan karena anggota band ini tidak (atau belum?) mengidap persoalan perebutan pengaruh.
Setelah hari itu membaca artikel majalah Under the Radar, sepertinya itulah yang terjadi. Orang dibelakang musik Fleet Foxes tentu saja adalah Robin Pecknold sang gitaris, sekaligus vokalis. Namun, seperti disebut dalam artikel majalah itu, anggota Fleet Foxes yang lain merasa bahwa Robin Pecknold adalah figur yang rendah hati dan demokratis. Memang ia yang menciptakan hampir semua lagu Fleet Foxes. Tetapi ia tidak pernah keberatan anggota band yang lain mengubah arah lagu yang ia ciptakan, sehingga akhirnya lagunya tidak lagi serupa dengan yang ia tulis semula.
Robin Pecknold adalah seorang yang suka menyendiri. Sejak SMA di Seattle ia hanya memiliki seorang sahabat yang juga sangat pemalu, Skyler Skjelset. Mereka berdua inilah yang membentuk Fleet Foxes. Walaupun mereka penyendiri, keduanya memiliki passion yang sama untuk musik. Mereka berdua sangat mengagumi Bob Dylan, Neil Young, dan, dengan mudah diduga, Brian Wilson, sang pentolan grup The Beach Boys.
Mereka berdua secara terbuka mengakui bahwa ambisi bermusik dan inspirasi mereka muncul dari karya-karya besar pemusik-pemusik hebat itu. Dalam wawancara dengan majalah Rolling Stone (November 2008), mereka menyatakan bahwa inspirasi dan tekad mereka menguat ketika rajin menyimak Bob Dylan dan the Beach Boys terutama ketika mereka menemukan bahwa dua pemusik legendaris itu menghasilkan karya-karya dahsyat ketika masing-masing berusia masih sangat muda. Seperti bisa kita lihat dari dialog dengan Robin Pecknold dalam majalah Rolling Stone itu:
“Dylan,” he says, “was the gateway to everything. He was so young when he made Freewheelin’, and Brian Wilson was 23 when he did Pet Sounds, which is just insane. I figured I should start young.”
Dan Robin Pecknold dan Skyler Skjelset telah melakukannya juga. Ketika album self-titled Fleet Foxes dirilis bulan Juni 2008, mereka berdua baru berumur 22 tahun. Dan album ini sudah pasti akan menjadi klasik, yang akan terus diputar dan dikenang sebagai mana orang menikmati album Freewheelin’ karya Bob Dylan dan album Pet Sounds karya the Beach Boys itu (blog ini pernah menulis soal Pet Sounds, silahkan klik di sini bila ingin membaca).
Mendengarkan Fleet Foxes membawa hati seolah melayang, melintas lembah, pantai, dan alam pegunungan. Harmoni vokal bergaya pastoral dan musik Fleet Foxes yang menghanyutkan seperti membawa snapshot dalam film-film yang menayangkan gambar-gambar alam terhampar. Mungkin seperti film Denias, Senandung di Atas Awan (2006) yang memperlihatkan alam indah Papua itu.
Mungkin juga sumber pengaruh lain bagi Fleet Foxes adalah film. Semasa SMA, Robin Pecknold dikenal sebagai geek, yang tergila-gila pada film Lord of the Rings. Film ini, kita tahu, adalah film epic dengan scene-scene alam lembah dan pegunungan yang indah. Tidak mengherankan bila lagu-lagu Fleet Foxes menimbulkan perasaan ringan dan tentram. Struktur lagunya pun longgar. Coba saja simak lagu “White Winter Hymnal” (klik di sini) dan “Ragged Wood” (klik di sini). Atau kesukaan saya, “He Doesn’t Know Why” (klik di sini).
Munculnya Fleet Foxes ke panggung musik Amerika dan dunia sangat meteorik. Mereka baru mendapat kontrak dari Subpop, salah satu label rekamanan indie paling berpengaruh (yang dulu ‘menemukan’ Nirvana), pada bulan Januari 2008 Pada bulan Maret 2008 mereka merilis mini album (EP) berjudul Sun Giant itu, dimana salah satu lagunya berjudul “Mykonos” langsung menarik perhatian banyak orang (klik di sini).
Album penuh self-titled Fleet Foxes dirilis bulan Juni 2008. Album ini berisi dua piringan. Piringan pertama berisi lagu-lagu album self-titled itu. Piringan kedua adalah EP nya yang berjudul Sun Giant tadi.
Hal lain yang menyenangkan adalah cover album ini yang diambil dari replika lukisan karya Pieter Bruegel the Elder yang berjudul “The Blue Cloak”. Lukisan ini dibuat tahun 1559.
Inilah salah satu alasan senangnya mengumpulkan piringan hitam. Karena sampulnya berukuran jauh lebih besar daripada CD atau kaset (atau ukuran cover flow di iPod yang super mini), art work sampul album-album piringan hitam lebih bisa dinikmati. Lengkaplah keindahan album ini, baik lagu maupun art work-nya. Walaupun majalah Rolling Stone ‘hanya’ menempatkan album Fleet Foxes pada urutan ke 11 dari 50 album terbaik tahun 2008, RS memberi catatan bahwa album Fleet Foxes ini adalah ‘the most beautiful album of the year”.
Here I am menulis dua hal yang paling saya minati: ilmu politik dan musik. Saya sedang studi ilmu politik, pada saat yang sama saya juga penikmat musik. Dalam dunia akademik dan musik saya menemukan bahwa sebuah karya besar selalu dibangun diatas karya besar orang terdahulu. Selamat jalan Samuel Huntington dan selamat datang Fleet Foxes. Semoga karya mereka selanjutnya sama indahnya dengan yang pertama ini. Terakhir, selamat datang tahun baru 2009!
philips vermonte
January 4, 2009 at 3:24 pm
denger musiknya fleet emang menenangkan,,bang, kapan resensi band indonesia??yang indienya juga bagus2…
January 4, 2009 at 8:16 pm
hmmm
lagunya mirip band Indonesia boss. mirip alirannya SORE. dah pernah denger kang? mau link DL mp3 nya? hehhehehe
March 13, 2009 at 7:57 am
salam kenal mas,
tulisan-nya asik mas..kebetulan saja saya baru2 aja dengerin fleet foxes dan lumayan jadi tertarik sama band ini.
musiknya enak..tenang. Wajar juga kalo album ini di nobatkan sebagai most beautiful album of the year.
mas, kasih referensi band folk yang bagus2 dong…hehe
May 6, 2009 at 1:28 pm
iya…mirip SORE..
karakter lagunya megah
review yang bagus mas
June 29, 2009 at 4:33 pm
kesandung blog ini gara-gara nge-google “fleet foxes album art” dan tidak menyesal sama sekali meluangkan waktu untuk baca. terima kasih telah merangkum beberapa jam browsing saya menjadi beberapa menit membaca.. sekarang tinggal cari .jpg cover albumnya