Archive for January, 2009

Undercurrent: Sebuah Percakapan yang Hangat

Posted in jazz on January 25, 2009 by philipsvermonte

Oleh Rizal Shidiq

evanshallucurrent Dua hari lalu, saya mampir ke toko vinyl sialan langganan saya. Waktu saya sempit, lima belas menit, karena sebelumnya Sisil telpon mengingatkan untuk membeli telur, sereal, tempe, dan sebangsanya di toko sebelahnya. Saya pikir, ah, mampir ke toko semprul dulu, lihat-lihat sebentar, nanti setengah jam sebelum tutup, baru belanja keperluan sehari-hari.

Hanya dalam lima belas menit itu, saya dengan sukses membawa pulang empat album jazz: Album debut Herbie Hancock, Takin’ Off, Miles Davis Miles Ahead, Thelonius Monk The Thelonius Monk Orchestra at Town Hall, dan Bill Evans dan Jim Hall Undercurrent. Semula saya hanya akan membeli tiga yang pertama, sebab saya sudah punya versi CD album yang keempat yang dibeli Sisil di NSJF. Tapi si penjaga toko, waktu saya bilang akan beli Undercurrent belakangan, mengangkat alis dan berkata, “Man, to me that record is better than any of these three.”

Walhasil, album itu sukses masuk bungkus. Barangkali saya dikibuli, tapi saya rasa ia benar: Mendengarkannya kembali salah satu album favorit saya ini dalam versi vinyl, sembari minum teh panas, memang terasa lain. Walaupun ketiga album lainnya sebenarnya termasuk kategori masterpiece dan –kalau saya punya waktu– layak untuk diulas di sini, Undercurrent, bahasa Inggrisnya, stands out dan termasuk sangat underrated.

Read more »

Memilih Lima Lagu

Posted in misc on January 25, 2009 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Di masa larut studi di Amerika Serikat ini, saya dan Philips bukannya memiliki beban yang semakin ringan namun sebaliknya malah tambah sibuk karena selain harus tetap datang ke kelas dan menulis tugas akhir atau disertasi, dan oleh karena mendengarkan LP agak berkurang kini saya hanya akan membuat daftar lima lagu yang paling sering saya dengarkan baik dari iPod maupun dari turntable.

1. Je n’En Connais Pas La Fin, Jeff Buckley (Live at Sin-é, Sony Legacy, 1993) Live at Sin-E. Direkam beberapa tahun sebelum Jeff Buckley menjadi terkenal dengan album Grace di hadapan kurang dari mungkin sepuluh orang, lagu ini adalah dokumen betapa Buckley adalah salah satu musisi rock yang amat langka. Dia bisa membuat sebuah lagu dari era Perang Dunia II yang aslinya dinyanyikan oleh Edith Piaf menjadi sebuah karya mandiri yang luar biasa indah, namun terasa kontemporer. Diiringi denting gitar yang mengalun seperti angin malam, Buckley hanya menyisakan dua bait berbahasa Prancis dari Edith Piaf, selebihnya adalah sebuah cerita masa kecil tentang pergi ke pasar malam. Apapun arti dari kata kata berbahasa Prancis tersebut, pastilah sangat indah. Klik di sini untuk melihat klip nya.

Read more »

Media Online Baru untuk Musik dan Humaniora

Posted in misc on January 20, 2009 by philipsvermonte

Usia blog perburuan vinyl ini sudah enam bulan, dan kami memutuskan untuk melakukan ‘ekspansi’ dengan meluaskan wahana. Bagi kami, musik tidak pernah bisa dilepaskan dari konteks sosial dan humaniora. Justru komunitas musik, sebagaimana seniman pada umumnya, adalah kelompok yang lebih sensitif terhadap persoalan sosial dan akrab dengan beragam pemikiran.

Karena itu, kami baru saja meluncurkan sebuah portal dengan gaya blog yang dihidupi oleh tulisan-tulisan dari para kontributor. Portal bergaya blog ini berisi tulisan-tulisan mengenai musik (tidak hanya vinyl tentunya), buku, film, politik dan isu humaniora lainnya.

Versi beta portal ini sudah bisa diakses di http://www.jakartabeat.net. Karena masih versi beta, tentu masih banyak kekurangan di sana sini. Komentar Anda kami nantikan.

Kami tetap akan menulis di blog berburu vinyl, karena hobi utama kami ya mengumpulkan vinyl. Mungkin tulisan di sini akan di-mirror di website Jakartabeat, atau sebaliknya.

enjoy!

Berburu Vinyl di Minneapolis, Kota Musik Indie

Posted in misc on January 6, 2009 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Beberapa orang mungkin menilai kualitas dan kelas sebuah kota dari museum seni yang dimilikinya. Sebagian yang lain mungkin menilainya berdasarkan gedung opera beserta kualitas akustiknya. Sebagian yang lain mungkin menilai dari besarnya stadion sepak bola atau gelanggang olah raga atau megahnya mall dan tempat belanja pakaian. Namun bagi saya kehebatan sebuah kota, terutama namun tidak khusus hanya untuk Amerika Serikat, ditentukan oleh kualitas toko musik independen yang dimilikinya. Dan oleh karena itu setiap kali berkunjung ke sebuah kota yang pertama kali saya cari dan kunjungi adalah toko musiknya, apakah toko toko musik tersebut memiliki koleksi piringan hitam langka dari kelompok kelompok musik independen dan avant garde dengan harga murah atau tidak.

Dan bagi saya ibukota negara bagian Minnesota, Minneapolis termasuk kota yang berkualitas, termasuk dalam hal hal di luar apa yang saya ukur. Minneapolis adalah salah satu kota dengan tingkat intelektual yang paling tinggi di Amerika Serikat. Kota ini juga salah satu kota yang memiliki scene seni yang paling bergairah dan ramai yang bisa dibandingkan dengan New York atau Chicago. Kota ini memiliki persentase per kapita pertunjukan teater hidup nomer dua setelah New York, selain puluhan museum seni yang tidak akan habis dikunjungi dalam waktu seminggu.

Read more »