Berburu Vinyl di Minneapolis, Kota Musik Indie

Oleh M. Taufiqurrahman

Beberapa orang mungkin menilai kualitas dan kelas sebuah kota dari museum seni yang dimilikinya. Sebagian yang lain mungkin menilainya berdasarkan gedung opera beserta kualitas akustiknya. Sebagian yang lain mungkin menilai dari besarnya stadion sepak bola atau gelanggang olah raga atau megahnya mall dan tempat belanja pakaian. Namun bagi saya kehebatan sebuah kota, terutama namun tidak khusus hanya untuk Amerika Serikat, ditentukan oleh kualitas toko musik independen yang dimilikinya. Dan oleh karena itu setiap kali berkunjung ke sebuah kota yang pertama kali saya cari dan kunjungi adalah toko musiknya, apakah toko toko musik tersebut memiliki koleksi piringan hitam langka dari kelompok kelompok musik independen dan avant garde dengan harga murah atau tidak.

Dan bagi saya ibukota negara bagian Minnesota, Minneapolis termasuk kota yang berkualitas, termasuk dalam hal hal di luar apa yang saya ukur. Minneapolis adalah salah satu kota dengan tingkat intelektual yang paling tinggi di Amerika Serikat. Kota ini juga salah satu kota yang memiliki scene seni yang paling bergairah dan ramai yang bisa dibandingkan dengan New York atau Chicago. Kota ini memiliki persentase per kapita pertunjukan teater hidup nomer dua setelah New York, selain puluhan museum seni yang tidak akan habis dikunjungi dalam waktu seminggu.

Namun sesuai dengan minat terbesar saya, saya hanya akan bercerita tentang seni populer dalam bentuk musik rock and roll. Ketika semester musim gugur kemarin baru saja selesai saya segera berkemas-kemas menghadapi perjalanan ke Minneapolis. Selain mengunjungi anak dan istri yang tinggal di kota dengan matahari rendah di musim dingin, dalam rencana saya, saya hendak sekaligus mengunjungi Duluth, kota pelabuhan di bagian utara Negara bagian ini. Kota ini adalah tempat kelahiran Bob Dylan, dan saya bermaksud melakukan ziarah mengunjungi tempat tempat yang di abadikan oleh Robert Allen Zimmerman (nama asli Dylan selain nama Yahudinya Shabtai Zisel ben Avraham) di album Highway 61 Revisited.

Namun, nampaknya alam berkehendak lain. Berkunjung ke Duluth di puncak musim dingin seperti sekarang sama halnya dengan misi bunuh diri. Karena suhu udara bisa turun sampai ke minus 16 derajat celcius di waktu malam, itu belum termasuk badai salju, dan keluarga Amerika yang saya tumpangi menyarankan untuk kembali lagi di musim semi ketika cuaca lebih bersahabat. Apa boleh buat, nampaknya Duluth dan Highway 61 masih harus menunggu. Tidak apa apa, toh pada akhirnya saya bisa setiap hari berjalan melewati Sungai Mississipi yang sangat lebar yang membelah kota Minneapolis, yang terlalu sering menjadi inspirasi bagi lagu lagu Dylan.

Tidak apa-apa, saya pikir, karena hikmah dari kegagalan mengunjungi Duluth adalah saya bisa berkelana menyambangi toko toko musik independen yang memenuhi kota Minneapolis, sambil berharap bisa menemukan bar-bar kecil tempat band indie semacam The Replacements dulu biasa main. The Replacements adalah band legendaris dari kota Minneapolis yang sempat merilis album album penting semacam Let It Be (bukan album the Beatles), Tim dan Please to Meet Me (dua yang saya sebut pertama masuk ke daftar Rolling Stone 500 Greatest Albums of All Time). The Replacements menjadi besar ketika mereka berada di bawah label legendaries Twin Tone Records yang juga menjadi rumah bagi band band besar lain seperti Pere Ubu, the Mekons dan Jonathan Richman.

Band berpengaruh yang datang dari kota ini adalah grup proto-grunge yang di pimpin oleh Bob Mould, Husker Du. Beberapa tahun sebelum the Pixies membuka kemungkinan bahwa sebuah komposisi lagu bisa diisi oleh raungan gitar monoton dan vokalis berteriak sekuat tenaga, Husker Du sudah melakukannya dengan sangat mengesankan.

Kembali ke soal toko musik independen, yang saya pertama kunjungi adalah Eclipse records, sebuah toko musik independen di dekat kampus University of Minnesota. Saya menemukan toko ini ketika saya bermaksud mengunjungi Urban Lights Records, toko musik yang saya lihat pertama kali dari bis kota ketika pulang dari ibukota negara bagian Minneapolis, St. Paul.

Dengan bersemangat saya datang ke Urban Lights records, hanya untuk menemukan bahwa toko musik ini dikhususkan untuk komunitas kulit hitam, jadi yang dijual di dalamnya ya hanya LP untuk hip hop, rap, jazz dan R&B. Saya tidak punya masalah dengan genre musik ini, cuma kalau disuruh memilih saya tentu lebih memilih rock and roll. Jadi setelah menyapa “how’s everything goin’ kepada kasir toko ini (yang kelihatan lebih terkejut dibandingkan saya) saya basa basi sebentar melihat koleksi mereka (yang juga tidak terlalu mengesankan karena saya tidak bisa menemukan LP Miles Davis atau Ornette Coleman), saya segera bergegas meninggalkan toko ini.

Sesampai di Eclipse Records saya agak ragu karena tepat ketika saya berkunjung tidak banyak orang yang ada di dalam toko dan dengan lampu yang menyala temaram saya tidak bisa segera menemukan harta karun yang terpendam di dalam toko ini. Namun begitu saya masuk lebih dalam ke rak LP, saya sangat terkejut dengan kelengkapan koleksi yang ditawarkan—dan tentu dengan begitu murahnya harga yang dipasang. Saya mungkin tidak bisa ke Duluth namun di Eclipse Records, saya bisa menemukan Highway 61 Revisited cuma dengan harga 6 dollar saja. Lebih kaget lagi saya ketika menemukan album Dylan terbaik yang lain Bringing It All Back Home di rak LP 1 dollar-an. Setelah agak panik beberapa saat saya membawa pulang dua album Dylan tersebut, dua album terbaik Lou Reed Transformer dan Berlin (masing masing seharga 2 dan 5 dollar). Dengan uang kurang dari 12 dollar saya bisa membawa beberapa album klasik dari era paling produktif dalam sejarah rock and roll.

feeliescover1Beberapa hari kemudian ketika cuaca memungkinkan untuk keluar rumah, saya berkunjung ke Electric Fetus, toko musik independen terbesar di Minneapolis, tempat dimana istri saya biasa membelikan LP buat saya. Di toko yang selalu ramai ini, saya menemukan album album yang dalam perkiraan yang paling masuk akal, akan sulit saya temui. Di antara kemenyan dan lampu lava saya menemukan album The Good Earth, rekaman tidak terlalu terkenal dari band kecil asal New Jersey The Feelies.

Band ini memang tidak terkenal namun kombinasi gitar yang sangat melodis dan perkusi serta drum yang sangat ritmis menjadi pengaruh besar bagi R.E.M. Gaya bernyanyi vokalis Glen Mercer yang seperti orang bergumam (murmur) menjadi inspirasi bagi penyanyi utama R.E.M. di album perdana mereka Murmur. Saya memang hanya mendapat album kedua mereka, namun ini sudah cukup menjadi alasan untuk bersyukur karena album legendaris mereka yang pertama Crazy Rhythms, sudah lama tidak dicetak dan di eBay, baik CD maupun LP album ini dijual dengan kisaran harga ratusan dollar (band ini sangat tidak dikenal sampai bahkan iTunes tidak menjual katalog lama mereka). Lebih untung lagi saya mendapat The Good Earth hanya dijual seharga 4.99 dollar.

Saya menduga album ini banyak beredar di Minneapolis—dan oleh karenanya menjadi murah—karena album ini dicetak dan dipasarkan oleh Twin Tone Records. Setelah saya dengar baik baik, The Good Earth merupakan kelanjutan eksplorasi The Feelies dengan ritme gitar akustik, distorsi gitar minimal, gitar solo mendayu dayu dan perkusi ritmis yang bergairah yang menjadi cetak biru the Feelies di Crazy Rhythms. Kalau Crazy Rhythms mendapat lima bintang, The Good Earth layak mendapat empat setengah bintang.

murmurremPeruntungan saya belum berakhir ketika saya menemukan juga album perdana band asal Skotlandia Franz Ferdinand. Bagi saya Franz Ferdinand sudah tamat ketika mereka merilis album kedua You Could Have It So Much Better (dan album ketiga mereka Tonight yang hendak dirilis segera juga tidak lebih baik), namun album perdana ini memberi janji betapa sebenarnya Franz Ferdinand punya masa depan yang cerah yang entah kenapa tidak terealisasi. Dan entah karena kebetulan yang langka di Electric Fetus saya juga mendapat album perdana R.E.M. Murmur. Album ini memang tidak terlalu sulit ditemukan di toko musik independen musik manapun, namun nampaknya masih cukup layak untuk di bawa pulang (terbukti dengan beberapa orang mahasiswa University of Minnesota yang tidak bisa melepaskan pandangan dari LP Murmur yang saya pegang sambil berdiri di subway).

One Response to “Berburu Vinyl di Minneapolis, Kota Musik Indie”

  1. elexyoben Says:

    Salam Kenal Kawan,

    Pada bulan Desember 2007 Elex Yo Ben (EYB) : Duo Electro Rock/Progressive Rock/Progressive Metal yang digawangi oleh dua orang filmmaker, telah menyelesaikan sebuah paket album yang kemudian diberi tajuk GENDING BEJAD. Paket ini terdiri dari VCD ( 13 Video klip) dan CD Audio (10 lagu)

    Menjelang album kedua yang akan diluncurkan pada pertengahan tahun ini, EYB mempersembahkan 3 buah lagu dan video dari album GENDING BEJAD yang bisa di download secara gratis. Silahkan mendownloadnya di: http://elexyoben.wordpress.com/ dan videonya di http://www.seleb.tv/content/blogcategory/20/237/

    Meski projectnya baru berumur dua tahun, namun hingga saat ini EYB telah menelurkan satu buah video album, satu buah video single kolaborasi sastra dan rock (berdurasi 25 menit) dan empat buah soundtrack indie movie.

    Salam
    ELEX YO BEN
    Brutal Tapi Sopan

Leave a Reply