Undercurrent: Sebuah Percakapan yang Hangat

Oleh Rizal Shidiq

evanshallucurrent Dua hari lalu, saya mampir ke toko vinyl sialan langganan saya. Waktu saya sempit, lima belas menit, karena sebelumnya Sisil telpon mengingatkan untuk membeli telur, sereal, tempe, dan sebangsanya di toko sebelahnya. Saya pikir, ah, mampir ke toko semprul dulu, lihat-lihat sebentar, nanti setengah jam sebelum tutup, baru belanja keperluan sehari-hari.

Hanya dalam lima belas menit itu, saya dengan sukses membawa pulang empat album jazz: Album debut Herbie Hancock, Takin’ Off, Miles Davis Miles Ahead, Thelonius Monk The Thelonius Monk Orchestra at Town Hall, dan Bill Evans dan Jim Hall Undercurrent. Semula saya hanya akan membeli tiga yang pertama, sebab saya sudah punya versi CD album yang keempat yang dibeli Sisil di NSJF. Tapi si penjaga toko, waktu saya bilang akan beli Undercurrent belakangan, mengangkat alis dan berkata, “Man, to me that record is better than any of these three.”

Walhasil, album itu sukses masuk bungkus. Barangkali saya dikibuli, tapi saya rasa ia benar: Mendengarkannya kembali salah satu album favorit saya ini dalam versi vinyl, sembari minum teh panas, memang terasa lain. Walaupun ketiga album lainnya sebenarnya termasuk kategori masterpiece dan –kalau saya punya waktu– layak untuk diulas di sini, Undercurrent, bahasa Inggrisnya, stands out dan termasuk sangat underrated.

Di mana sebenarnya kehebatan album ini? Satu kata: kesederhanannya. Album hanya berisi permainan piano Bill Evans dan gitar Jim Hall yang memainkan lagu-lagu standar jazz. Tentu sederhana bukan berarti tanpa teknik yang luar biasa atau menjadi kedengaran seperti musik lembut yang diputar di kakus mall.

Jim Hall sendiri adalah gitaris terpandang di dunia jazz, sementara Bill Evans adalah maestro yang berhasil merumuskan gaya bermain tersendiri yang sedikit banyak mempengaruhi pianis-pianis jazz kontemporer –Brad Mehldau misalnya, walaupun ia sebal betul disamakan dengan Evans. Saya tak fasih, dan dengan demikian tak tahu istilah teknis, tentang gaya bermain piano, tetapi dari sekian lama mendengarkan Evans, saya (rasa-rasanya) lumayan bisa mengenali elemen Evanesque.

Tentu saja jazz adalah soal improvisasi. Soalnya adalah begitu banyak pemain jazz, atas nama improvisasi, kemudian bermain terlalu bersemangat dan berlama-lama memainkan nada-nada miring yang (seakan-akan) rumit. Evans bukan tipe demikian. Ia bermain sangat terukur, dalam, dan hebatnya ia tetap bisa menjaga ruh jazz, tanpa menjadi jatuh dalam disiplin ketat ala musik klasik.

Dalam Undercurrent, elemen kesederhanaan yang terukur ini mencuat. Memutar album ini rasanya seperti mendengar dua orang yang sedang mengobrol soal filsafat sambil minum kopi di kafe yang terang (cafe salemba misalnya :-) ) dengan akrab tanpa pretensi di antara keduanya. Atau analogi lainnya, mendengarkan salah satu lagu favorit saya, Skating in Central Park, ibaratnya seperti membicarakan filsafat permainan meluncur di permukaan es –soal yang bisa dibilang antara penting tidak penting, tapi menarik dibicarakan— sambil minum kopi di kedai pagi hari. (Kalau situasinya Indonesia, bisa diganti dengan balap karung dan kopi tubruk di warung indomie).

Soal beginian hanya bisa dibicarakan antara dua orang yang punya minat dan rasa ingin tahu yang sama dan bersedia bertukar pikiran satu sama lain dengan santai. Dan hasilnya tentu bukan sebuah pasal yang kaku atau posisi yang kukuh, tetapi spekulasi yang mencerahkan, keyakinan yang senantiasa bisa goyah, dan rasa hangat.

Ngomong-ngomong, di Indonesia, ada satu album yang sepintas agak mengingatkan pada Undercurrent. Judulnya Talk, dari Riza Arshad (piano/akordeon) and Oele Patiselanno (gitar). Album ini semangatnya sama dengan Undercurrent, dan barangkali merupakan salah satu album jazz Indonesia terbaik yang pernah saya dengar yang sayangnya (atau untungnya) tak pernah meledak di pasaran atau bahkan sekedar memperoleh ulasan yang memadai dari media Indonesia. Barangkali album ini masih ada di toko-toko musik khusus jazz di Jakarta, dan jika kebetulan ketemu, sangat direkomendasikan untuk dibeli.

2 Responses to “Undercurrent: Sebuah Percakapan yang Hangat”

  1. uswatul hasanah Says:

    saya punya piringan hitam jaman belanda kuno ada yang berminat beli hubungi saya! melalui hp 081241233604

  2. hi, salam kenal.. beruntung yah mas ini sekarang lagi di amerika. Saya sendiri di jakarta, dan sungguh susah nyari vinyl release baru. Alhasil berburunya kalau gak ke singapore ya ke ebay. dimana harganya sangat mencekik hehehe saya dan temen saya sering membayangkan kalau kita hidup di amerika pasti dah punya ribuan vinyl :P

Leave a Reply