Tentang Blog Perburuan Ini
Blog ini berisi cerita pengalaman berburu piringan hitam, baik bekas dan baru. Saya sedang studi di Amerika, negara dimana pemutar piringan hitam (turntable) dan vinyl (plat piringan hitam) masih digemari dan diproduksi. Piringan hitam yang sedang saya buru terutama adalah album piringan hitam yang masuk dalam list 500 Greatest Albums of All Time yang dirilis majalah musik Rolling Stone tahun 2003 (edisi ini dikenal dengan sebutan RS 500). Sebagian besar album dalam list itu adalah album musik rock and roll, yang mencakup rock, hard rock, progressive rock, punk, alternative, dan juga heavy metal. List itu juga mencakup beberapa album jazz, soul, blues, reggae, dan pop.
Catatan mengenai RS 500: Edisi khusus Rolling Stone yang memuat RS 500 terbit pada tahun 2003. Pada tahun 2005, RS menerbitkan buku hard cover RS 500. Ada sedikit perbedaan antara RS 500 edisi majalah dan edisi buku hard cover. Di edisi buku, beberapa album yang berupa kumpulan lagu-lagu terbaik dihilangkan, walaupun ada beberapa yang dipertahankan. Karena ada penghilangan, ada 8 album baru yang dimasukan ke dalam list di edisi buku. Di edisi majalah, album terbaik paling akhir, nomor 500, adalah Touch karya kelompok Eurythmics. Sementara dalam edisi buku, Touch ada di nomor 492. Kedelapan album yang masuk dalam list edisi buku yang tidak ada di edisi majalah adalah album Yankee Hotel Foxtrot milik grup Wilco (dirilis tahun 2002), di nomor 493. Juga ada album self-titled The Stone Roses (1989) di nomor 497. Selain itu, ditambahkan juga B.B King dengan albumnya Live at Cook County Jail (1972) di nomor 499.
List yang dibuat RS cukup komprehensif dan bisa dipertanggungjawabkan. RS mengundang 273 orang yang berasal dari dekade dan genre musik berbeda. 273 orang ini mencakup musisi, kritikus musik, produser, wartawan, penyiar radio, dan lain-lain. Diantara 273 nama-nama yang tercantum di halaman belakang buku terdapat: Les Bider (CEO Warner Music), The Edge (U2), Suzan Evans (Executive Director, Rock & Roll Hall of Fame), Bob Ezrin (Producer), Flea dan John Frusciante (Red Hot Chilli Peppers), David Geffen (co-founder, Dream Works), James Hetfield dan Lars Ulrich (Metallica), Craig Kallman (CEO Atlantic Record), Arthur Levy (sejarawan), Greg Kot (kritikus musik, Chicago Tribune), Yoko Ono, Bob Rock (produser), Albert Hammond Jr dan Nick Valensi (The Strokes), Andy Schwartz (researcher/archivist, Rock & Roll Hall of Fame), Richard Wright (Pink Floyd), Steve Pond (profesor di Cornell University), Art Garfunkel (musisi/penyanyi, Missy Elliott (penyanyi), Jackson Browne (musisi/penyanyi), Christine McVie (Fleetwood Mac), Tom Morello (Audioslave), dan Jann S. Wenner sang pendiri majalah Rolling Stone. Masih banyak nama lainnya. Ada juga Britney Spears. Di edisi majalah, Rolling Stone menulis setengah bercanda kira-kira begini: if you don’t like any of these 500 albums, blame Britney…:-).
Orang-orang ini diminta membuat list album favorit mereka kemudian di kompilasi. Dengan sistim scoring yang dibantu pembuatannya oleh perusahaan konsultan Ernst & Young maka tersusun lah daftar 500 album musik terbaik sepanjang masa ini. Karena itu, menurut saya, ke 500 album dalam list ini bisa dipertanggungjawabkan dan hampir pasti layak dinikmati dan layak dimiliki. 273 orang ini adalah memang orang-orang yang bergelut di bidang musik.
Niat mengumpulkan album dalam format vinyl/piringan hitam muncul bukan tanpa sebab. Vinyl adalah sound carrier terbaik dan tahan lama. Walaupun bukan berarti vinyl tidak bisa rusak. Secara tidak sengaja saya membaca sebuah artikel tentang seorang dokter di Surabaya yang mengumpulkan piringan hitam semasa dia kuliah di Amerika. Sekarang dokter itu telah pensiun dan dia merasa beruntung dulu mengumpulkan piringan hitam. Sekarang dia menikmati hari tua dengan menikmati koleksi piringan hitamnya yang berjumlah lebih dari seribu buah dan bermain musik bersama teman-temannya. Kalau ada umur panjang, saya kelak mungkin bisa juga menikmati terus koleksi ini…:-).
Alasan lain, kepingan CD paling bertahan 5 sampai 10 tahun. Setelah itu berjamur dan rusak. Format kaset adalah sound carrier terburuk. Tidak sampai 5 tahun suara kaset sudah jauh menurun kualitasnya. MP3 dan format digital lain memang praktis. Tetapi suaranya terlalu ‘kering’. iPod amat praktis, tapi tentu telinga kita tidak bisa tahan suara puluhan desible untuk waktu yang lama.
Selain itu, vinyl justru memaksa saya duduk diam mendengarkan dan menikmati musik. Juga ada ‘ritual’ yang harus dijalankan setiap akan memutar sebuah album piringan hitam.
Saya bukan music monger, bukan juga kritikus musik yang umumnya sering showing off pengetahuan musik dan menganggap rendah selera musik orang lain itu. Saya bukan pula seorang audiophile dengan fasilitas musik high end yang mahal. Saya cuma penikmat musik biasa. Pada dasarnya segala jenis musik bisa masuk telinga saya. RS 500 menyediakan petunjuk untuk memprioritaskan pembelian yang justru berguna karena budget saya terbatas sebagai mahasiswa di negeri orang ini.
Turntable yang saya miliki adalah basic turntable, berharga murah. Tidak ada amplifier, karena sudah ada built-in preamp-nya. Saya sambung dengan kabel aux ke speaker sebuah compo. Mini compo ini pemberian teman saya Anies Baswedan ketika dia akan pulang ke tanah air karena studinya selesai. Mini compo ini boleh dibilang sudah rusak karena CD changer-nya tidak lagi berfungsi. Karena itu tidak pernah saya gunakan, tetapi mau dibuang sayang. Setelah membeli turntable, saya iseng menyambungkannya ke speaker compo ini. Suara yang dihasilkan memuaskan untuk saya.
Terakhir, blog ini tentunya tidak hanya berhubungan dengan vinyl yang tercantum dalam RS 500. Ada banyak album musik bagus, tetapi tidak masuk list RS 500. Bila saya menemukan dan membelinya, ceritanya juga akan ada di blog ini.
Enjoy!
philips vermonte
note:
1. Selain dari list 500 Greatest Albums of All Time, para penulis blog ini juga dibantu dengan informasi dari berbagai sumber (buku, majalah, website, dan lain-lain)
2. Header blog ini berganti-ganti. Sebelumnya adalah “Perburuan: cerita seputar perburuan piringan hitam”. Saat ini (mulai 27 Agustus 2008) headernya adalah “It’s the Vinyl Countdown!: cerita seputar perburuan piringan hitam”. Tagline “It’s the Vinyl Countdown” saya pinjam dari sebuah tulisan di majalah heavymetal Hammer edisi bulan Agustus 2008.

August 24, 2008 at 6:08 pm
Wah apa jadinya kalo Lester Bang turut diundang…
August 24, 2008 at 10:26 pm
kayaknya gak mungkin dia jadi juri, dia dah dipecat jann wenner waktu ngaco nulis soal Led Zeppelin…
August 25, 2008 at 12:31 am
tadinya saya pikir Jann Wenner tetap akan mengundang Lester Bangs, seandainya masih hidup, karena membuat list 500 greatest albums kan pertaruhan reputasi juga. Jadi sepertinya masuk akal kalau RS mengundang kritikus yang punya reputasi. Lagipula, satu orang juri yang berseteru dengan Jann Wenner will not hurt. Karena sistem penilaiannya kan ditentukan dengan sistem scoring yang melebur pendapat-pendapat subyektif para juri. Tetapi, saya pikir lagi, mungkin Lester Bangs nya yang tidak bersedia menjadi juri jika diundang. btw, ada “wawancara menarik” dengan Lester Bangs di http://www.furious.com/Perfect/lesterbangs.html
August 25, 2008 at 12:36 am
Hahaha bukan krn itu sih, krn dia juga udah meninggal, bukan ngaco…hanya ga sepaham aja dengan jann wenner dan Lester itu banyak mengkritisi RS yg terlalu komersil. Tulisan Lester tentang Led Zeppelin itu emang sinting sih, bahkan lebih sinting dr tulisannya tentang the yardbirds atau John Coltrane., tp krn dia lah proto punks 60an ada ‘khasiatnya’( hahha,apaa coba..), kalo gw pribadi, dr dialah gw tau kenapa album psychotic reaction dan count five itu emang band yg kereeenn.
September 1, 2008 at 8:07 am
sob, ada kabar2 tentang deftones? live’nya mereka kyk gmn?
September 24, 2008 at 5:08 am
woo . . ternyata piringan hitam masih diproduksi di Amerika ya
terimakasih informasinya, saya bisa meneruskan dengan semangat mengkoleksinya . . .
October 14, 2008 at 7:25 am
such a great site, saya pun berfikir yang sama untuk membuat web untuk mendokumentasikan piringan hitam koleksi saya. Salam kenal mas phillip …
keep hunting, dan sekiranya bisa kenal dan bergabung dengan anda, karena saya juga masih baru…
salam
October 18, 2008 at 9:58 pm
bung wahyu, salam kenal juga. Blog anda menarik sekali…
November 3, 2008 at 10:41 am
Salam kenal bung Philip,
Sampai sekarang saya masih menggunakan turn table untuk mendengarkan lagu lagu. Karena menurut saya kwalitas suara PH lebih memuaskan dari pada CD. Problemnya ialah saat ini di Indonesia sukar mendapatkan PH baru. Mungkin Bung Philip tahu dimana saya bisa mendapatkan PH PH yang baru.
Terima kasih
Tony Budiman