Archive for the grunge Category

In Utero: Teriakan Putus Asa Nirvana Atas Nama Gen. X

Posted in RS500, grunge, kurt cobain, nirvana on August 18, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Dengan resiko akan membicarakan tentang bunuh diri, kali ini saya akan menulis tentang kelompok musik paling besar di dekade 1990-an, Nirvana. Sangat sulit untuk berbicara tentang Nirvana tanpa menyentuh tema klise bunuh diri sang penyanyi Kurt Cobain. Namun karena tema tersebut sudah terlalu sering dibahas, saya tidak akan menulis lebih lanjut tentang hal tersebut. Cukup untuk dikatakan bahwa bunuh diri sang penghancur berhala (iconoclast) bernama Kurt Cobain, malah membuat dia menjadi berhala yang lebih besar yang tetap menjadi mesin uang bagi siapapun yang mewarisi (secara komersial) karya karyanya.

Read more »

Vitalogy: Viva La Vinyl

Posted in RS500, grunge, hard rock, pearl jam, piringan hitam on July 31, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Bagi saya sebuah band besar boleh bertahan hanya setelah mereka merilis tiga album; tiga kali berarti setelah itu mati. Nirvana merekam Nevermind, In Utero dan Unplugged in New York dan pergi selama-lamanya setelah itu. The Clash bikin album debut mereka, London Calling lalu Sandinista dan bubar setelah itu (Anggap saja Combat Rock sebagai bonus). The Velvet Underground praktis sudah bubar ketika mereka merilis album ke empat Loaded, karena anggota terakhir yang bertahan Lou Reed pergi di tengah jalan sebelum album itu selesai dan sisanya diselesaikan oleh Doug Yule. Mungkin the Who adalah pengecualian terhadap hukum besi tersebut. Album terbesar mereka Who’s Next adalah rilis kelima setelah empat album bermutu—di luar album Live at Leeds tentunya. Intinya sebuah band besar tidak boleh bertahan terlalu lama agar mereka tetap relevan dan tidak menjadi parodi bagi dirinya sendiri. Pearl Jam adalah band besar atau mungkin terbesar di dekade 1990s yang mampu menciptakan karya karya besar rock and roll (atau grunge tergantung darimana anda menilainya) namun karena mereka memilih bertahan terlalu lama mereka menjadi sangat tidak menarik dan membosankan. Kehebatan mereka tersisa hanya di aksi panggung yang bersemangat (yang bagaimanapun juga tetap ingin saya saksikan).

Read more »