Oleh Ari Perdana
Tahun 1988, sebagai ABG (kelas 2 SMP) yang baru saja memilih heavymetal sebagai pandangan hidup, saya merasa perlu untuk mendalami ‘iman’ saya lewat kitab-kitab klasik para pendahulu heavymetal. Masalahnya, saya tidak dibesarkan di keluarga penganut heavymetal. Jadi saya tidak mewarisi nilai-nilai dan koleksi lagu-lagu metal. Akibatnya, saya harus melakukan pencarian itu sendirian.
Masalah lain, pada tahun 1988 itu baru saja terjadi perubahan besar-besaran dalam industri kaset Indonesia. Karena dikritik habis oleh Bob Geldof, kaset yang tadinya murah dan ‘sagala aya’, menjadi mahal dan masih terbatas karena baru beberapa perusahaan rekaman yang punya kerjasama dengan perusahaan lokal. Sehingga, pilihan saya terbatas.
