Archive for the rock Category

Harmoni dan Inspirasi dalam Album Fleet Foxes

Posted in folk, indie, rock on December 31, 2008 by philipsvermonte

fleetfoxescover

Dalam tradisi akademik di Barat, ada ungkapan terkenal ‘standing on the shoulder of giants’. Metafora ini berasal dari bahasa Latin nanos gigantum humeris insidentes yang bermakna “one who develops future intellectual pursuits by understanding the research and works created by notable thinkers of the past”. Bahwa karya akademik selalu terinspirasi dan dibangun diatas karya-karya akademik sebelumnya. Dalam ilmu politik, salah satu giant itu adalah Professor Samuel Huntington, yang meninggal dunia pada tanggal 27 Desember lalu dalam usia 81 tahun.

Karya-karya Huntington, menurut saya, ditulis dengan amat baik dan argumen yang terang. Dalam studi perbandingan politik (comparative politics), sebuah sub-disiplin dari ilmu politik, karya-karya Huntington adalah dasar bagi studi-studi lanjutan, dimana ilmuwan politik yang belakangan membangun karya-karyanya diatas buah pemikiran Huntington.

Read more »

Gemuruh Rock and Roll dari London: Up the Bracket

Posted in garage rock, rock on December 3, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

libertinecover Saya selalu skeptis dengan penerbitan musik Inggris. Mereka terlalu bombastis dan dangkal. Mungkin setiap bulan sekali menisbatkan bahwa band A adalah band terbesar sepanjang masa, atau album B adalah album terbaik sepanjang masa, atau penyanyi C adalah penyanyi baru terbaik yang hendak menggantikan posisi Robert Plant atau Dusty Springfield. Coba perhatikan ketika mereka menobatkan the Arctic Monkeys sebagai band yang hendak mengambil alih tahta kekuasaan the Beatles hanya karena mereka menjual album debut paling banyak di minggu pertama setelah the Beatles. Kemana mereka sekarang?

Atau ketika mereka mengatakan bahwa Oasis akan lebih besar dari the Beatles (lagi!) dan Liam Gallagher adalah inkarnasi John Lennon. Terakhir saya periksa, Oasis hanya bisa manggung di venue-venue kecil bersama Ryan Adams. Atau ketika majalah Q menempatkan dua album Oasis What’s the Story (Morning Glory) dan Definitely Maybe sebagai album terbaik nomer dua dan nomer satu sepanjang masa dari artis Inggris dan menempatkan album Joy Division Unknown Pleasure di nomer 49 untuk daftar yang sama. Ini sih sudah keterlaluan.

Read more »

10 Piringan Hitam Itu

Posted in jazz, misc, rock on November 27, 2008 by philipsvermonte

Oleh Rizal Shiddiq

Beberapa hari lalu,  Philips telpon menanyakan soal hutang tulisan saya di blog sontoloyo ini tentang daftar album yang paling sering saya putar belakangan. Sebenarnya agak susah mendefinisikan “sering diputar” sebab baru-baru ini saya memilih vinyl untuk diputar tanpa pikir panjang, keburu habis energi di otak untuk hal-hal lain yang lebih penting yang seringkali terlewat –misalnya kapan saatnya mesti membuang sampah atau memasukkan pelembut pakaian ke dalam mesin cuci –. Tapi OK lah, tanpa basa-basi lagi, ini daftarnya:

1. Bill Evans, The Village Vanguard Sessions (Milestone, 1961). Ada dua lagu yang paling saya sukai. Pertama, Alice in Wonderland. Lagu standar yang paling bagus dibawakan Bill Evans ini selalu menjadi favorit saya dan Sisil karena mempunyai efek menenangkan yang amat tinggi. Yang kedua, barangkali juga sudah dikenal para penggemar jazz: “Waltz for Debbie” (klik di sini). Klub Village Vanguard di New York adalah tempat tujuan wisata yang ingin kami datangi suatu saat nanti.

Read more »

5 Album Piringan Hitam Yang Paling Sering Diputar

Posted in RS500, indie, rock on November 22, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Saya khawatir kalau saya harus membuat daftar 10 LP yang paling sering saya dengarkan, saya akan segera kehabisan musik (dalam bentuk piringan hitam) untuk diulas dan akan segera kehilangan pekerjaan yang menyenangkan tersebut (mendengarkan musik, bukan menulis ulasannya). Oleh karena itu saya hanya akan membuat daftar lima album yang paling sering saya dengarkan, selama 2 minggu, 2 bulan atau mungkin 2 tahun terakhir. Daftar yang lain segera menyusul.

Read more »

10 Album Piringan Hitam Yang Terbanyak Saya Putar Dalam Dua Minggu Terakhir

Posted in indie, misc, punk, rock on November 16, 2008 by philipsvermonte

Kesibukan kampus membuat saya lupa menulis review album-album piringan hitam yang saya koleksi. Yang jelas, mendengarkan musik adalah rutinitas setiap hari yang tidak terlupakan. Sambil membaca atau menulis, musik sebagai background jelas tidak pernah ketinggalan.

Beberapa waktu ke depan, kami (utamanya saya, Rizal dan Taufiq) akan mencoba membuat tulisan super ringan, tentang 10 album piringan hitam dari koleksi kami masing-masing yang paling sering kami putar beberapa waktu belakangan. Maklum, akhir semester semakin mendekat, tugas-tugas kuliah dan ujian menghampiri.

Read more »

Mengagumi Van Halen

Posted in RS500, rock, rock & roll hall of fame on October 12, 2008 by philipsvermonte

Boleh dibilang saya tumbuh bersama grup rock Van Halen. Ketika mulai mendapat uang saku mingguan saat duduk di bangku SMP, album baru Van Halen selalu setia saya beli. Yang pertama saya miliki adalah album berjudul 1984 (atau MCMLXXXIV). Album yang dirilis pada tahun sesuai dengan judulnya ini saya beli ketika saya duduk di kelas satu SMP di tahun 1985. Album inilah yang membuat saya jatuh cinta pada Van Halen. Penyuka musik rock mana yang tidak kenal lagu “Jump” (klik di sini untuk melihat klip nya),  “Panama” (klik di sini), “I’ll Wait”, dan “Hot for Teacher”? Semua lagu ini ada dalam album 1984. “Jump” bahkan begitu legendarisnya, hingga sekarang menjadi lagu rock klasik. Begitu juga dengan aksi lompatan di panggung oleh vokalis David Lee Roth dan gitaris Eddie Van Halen ketika mereka membawakan lagu ini, image-nya begitu tertanam dalam benak mereka penyuka musik rock yang besar di era tahun 1980-an.

Album 5150 keluar ketika saya duduk di kelas dua SMP di tahun 1986 Tentu saya tidak melewatkannya, tetapi lupa beli dimana. Entah di Aldiron Plaza di Blok M, Pasar Mayestik dekat sekolah, atau Aquarius Mahakam. Maklum, masa-masa itu harga kaset murah meriah, bajakan semua. Toko kaset bertebaran dimana-mana. Lagu-lagu album ini semacam “5150” (klik di sini untuk melihat klip-nya), “Why Can’t This Be Love”, “Love Walks In” di hari-hari itu tidak pernah ketinggalan saya putar pagi, siang, sore, malam.

Read more »

Lagu Cinta dan Kebencian Leonard Cohen

Posted in rock, rock & roll hall of fame on September 27, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Kadang kita mendengarkan musik bukan karena keindahan aransemen lagu atau vokal sang penyanyi yang mendayu-dayu merdu. Kalau mendengarkan musik hanya karena kedua alasan itu, pilihan itu saya serahkan kepada mereka yang suka dengan Celine Dion atau Kenny G. Dan kalau musik hanya tentang vokal yang merdu dan musik yang enak didengar, tentu saja artis semacam Captain Beefheart, Tom Waits, atau Bob Dylan sudah punah dari awal. Kita (atau saya terutama) memilih untuk mendengarkan ketiga penyanyi tersebut bukan karena keindahan musik mereka—walaupun memang ada beberapa musik Waits dan Dylan yang indah seperti “I Want You” atau beberapa lagu dari Swordfishtrombone, Captain Beefheart sih tidak punya lagu yang indah namun tetap setia saya putar—namun karena kekuatan kata-kata yang kemudian disertai tindakan yang setara.

Bagi saya ketiga orang ini—mengutip Rendra di Kantata Takwa—adalah pejuang yang melaksanakan kata-kata serta bernyanyi untuk memberi kesaksian. Dan untuk alasan yang sama pula kemudian kalau saya menjatuhkan pilihan kepada Leonard Cohen, sang troubador dari Canada.

Read more »

Metallica Datang Lagi!

Posted in metal, metallica, rock on September 19, 2008 by philipsvermonte

Pada tahun 1991, para penggemar lama Metallica ternganga tidak percaya dan kecewa ketika album bertajuk Metallica (lebih dikenal sebagai Black Album) dirilis. Lagu-lagu mereka menjadi begitu manis, misalnya “Enter Sandman”, “The Unforgiven”, dan “Nothing Else Matter”. Tentu ini pengaruh produser Metallica saat itu, Bob Rock yang selalu sukses menangani kelompok manis Bon Jovi. Dalam satu konser setelah album itu dirilis, James Hetfield sang vokalis berkomentar kaget saat mereka membawakan “Nothing Else Matter”: “It’s scary to look out and see couples hugging during that song…Oh, f**k, I thought this was a Metallica show!”

Toh album itu oleh majalah Rolling Stone didapuk sebagai salah satu album metal paling laris sepanjang masa. Selain itu, Black Album diletakan dalam urutan 249 dari 500 Greatest Albums of All Time. Dalam satu minggu pertama setelah dirilis, Black Album terjual 598 ribu copy. Dan hingga tahun 2003, album itu telah terjual lebih dari 13 juta copy!

Read more »

The Doors: Pintu-pintu Spiritualitas Jaman Modern

Posted in RS500, rock on September 16, 2008 by philipsvermonte

Oleh Rizal Shidiq

Menjelang bulan puasa, jalanan di sekitar Tanah Kusir atau Karet biasanya macet karena banyak orang melakukan ziarah kubur. Ritual ini masih menjadi institusi penting dalam kehidupan sosial Indonesia. Tidak percaya? Lihatlah ribuan rombongan pengajian masjid yang sengaja menyewa bis untuk berziarah ke makam Walisongo. Masih tidak percaya? Jutaan orang berjejalan di terminal dan stasiun berusaha mudik tiap tahun, salah satu tujuan penting mereka adalah untuk menengok makam keluarga. Kuburan juga menjadi salah satu tema yang paling banyak digarap dalam film-film Indonesia yang baru bangkit (dari kuburnya sendiri) itu. Belum lagi sinetron.

Dulu, dengan naif dan sedikit sebal, saya pikir ini hanya terjadi di masyarakat yang sebelah kakinya masih berpijak di dunia agraris di mana kekuatan gaib –sebagai jelmaan kekuatan alam– masih dianggap menentukan mati hidup seseorang. Ketika masyarakat mengalami proses modernisasi dan beranjak ke tradisi industri di mana rasionalitas menjadi raja, ritual semacam ziarah kubur itu tidak relevan lagi. Tapi bagaimana menerangkan bahwa di London sekalipun, orang masih berdatangan ke Highgate cemetery, menyambangi makam Karl Marx –yang jelas-jelas bahkan bilang agama itu candu dunia? Atau bagaimana misalnya di Paris, Le Cimetière du Père-Lachaise didatangi orang-orang dari seluruh dunia untuk ziarah ke makam Jim Morrison, vokalis kelompok The Doors.

Read more »

Master of Reality: Album Relijius (?) Black Sabbath

Posted in RS500, heavy metal, rock on September 12, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Tidak perlu menjadi pemuja setan untuk suka dengan Black Sabbath. Saya pikir ada persepsi yang salah terhadap band asal Birmingham ini. Hanya karena Ozzy Ozzbourne pernah menggigit kepala kelelawar sampai putus di atas panggung dan tuduhan (tidak berdasar) bahwa kalau diputar terbalik beberapa lagu Black Sabbath atau lagu dari album solo Ozzy akan muncul pesan pesan untuk bunuh diri, bukan berarti mereka pemuja setan atau anti agama. Malah sebaliknya bagi saya Black Sabbath adalah band yang sangat relijius. Coba anda putar lagi album ketiga Black Sabbath dari tahun 1971 Master of Reality (bagi yang punya piringan hitamnya anda lakukan lagi ritual seperti biasa). Inilah album yang berada pada nomor urut 298 dari 500 Greatest Albums of All Time versi majalah Rolling Stone.

Album ini hanya dirilis beberapa bulan setelah album paling laris mereka Paranoid. Bagi saya Master of Reality adalah album terberat dan terbaik Black Sabbath yang menggenapi tiga album trilogy terbaik Black Sabbath, Paranoid dan Master of Reality. Album ini, yang banyak ditulis oleh Ozzy dan gitaris Tony Iommi, sebenarnya afirmasi terhadap ketuhanan dan bahwa semua bentuk kejahatan adalah karena ketiadaan arti ketuhanan.

Read more »