Archive for the RS500 Category

Tahun 2008: Tahun Musik Rock and Roll

Posted in RS500, alternative, folk, heavy metal, indie on December 19, 2008 by philipsvermonte

Saya baru selesai membaca majalah Rolling Stone edisi terbaru (issue 1068/1069, December 2008/January 2009). Saya sudah sering tulis bahwa saya mengagumi majalah yang satu ini, terutama karena kemampuannya yang hebat dalam menggabungkan entertainment (khususnya musik dan film) dan social/political awareness. Saya juga baru membeli commemorative edition majalah RS ini yang berisi khusus tulisan-tulisan panjang wartawan RS tentang Barack Obama (tentang kampanyenya, pidato-pidatonya yang menggetarkan, dan kisah-kisah lain seputar Barack Obama). Dua majalah lain yang menerbitkan commemorative edition tentang Barack Obama adalah Time dan Newsweek.

Saya membeli edisi terbaru RS ini karena saya ingin tahu pendapat RS tentang album-album rock terbaik yang di rilis tahun 2008.Ternyata, setelah saya baca, yang pertama menarik perhatian saya adalah sebuah statement sangat pendek yang saya temukan dalam sebuah artikel di edisi ini: “Can’t Stop the Rock!”.

Read more »

B.B King: Raja Musik Blues Yang Rendah Hati

Posted in RS500, blues, rock & roll hall of fame on November 28, 2008 by philipsvermonte

kingfrontcover Beberapa hari setelah Barack Obama terpilih menjadi presiden Amerika 4 November yang lalu, saya terlibat pembicaraan ringan dengan Taufiq, sesama pemelihara blog sontoloyo ini. Pemilihan itu sangat monumental, terutama bagi warga kulit hitam Amerika. Kebetulan saya berada di Grant Park Chicago pada malam 4 November itu, malam perayaan terpilihnya Barack Obama. Di Grant Park Chicago malam itu saya menyaksikan banyak orang kulit hitam meneteskan airmata menyaksikan Barack Obama menyampaikan pidato kemenangannya. “I cannot believe it”, demikian kata dua orang wanita kulit hitam yang sudah berumur, yang berdiri di belakang saya di taman itu sambil menyeka air mata mereka. Malam itu juga saya melihat beberapa anak muda berkulit hitam memanjat sebuah tembok pendek dekat taman, melampiaskan kegembiraannya dengan berteriak-teriak lantang: “Our president is black!, Our president is black!”.

Saya dan Taufiq kemudian tersadar bahwa blog ini, hingga tanggal 4 November itu, belum pernah menampilkan pemusik berkulit hitam dengan agak panjang, kecuali cuplikan pendek di beberapa posting. Padahal saya, Taufiq, dan Rizal memiliki koleksi piringan hitam dari para pemusik hebat kulit hitam. Dalam koleksi piringan hitam saya misalnya, ada dua album penting Stevie Wonder yang berjudul Songs in the Key of Life (1976, ada dalam urutan 57 dari 500 Greatest Albums of All Time versi majalah Rolling Stone atau RS 500) dan Talking Book (1972, nomor 90 dalam RS 500), That’s the Way of the World dari kelompok Earth, Wind and Fire (1975, nomor 485 dalam list RS 500). Juga ada album salah satu penyanyi favorit saya Marvin Gaye, Let’s Get It On (1973, urutan 164 dalam RS 500).

Read more »

5 Album Piringan Hitam Yang Paling Sering Diputar

Posted in RS500, indie, rock on November 22, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Saya khawatir kalau saya harus membuat daftar 10 LP yang paling sering saya dengarkan, saya akan segera kehabisan musik (dalam bentuk piringan hitam) untuk diulas dan akan segera kehilangan pekerjaan yang menyenangkan tersebut (mendengarkan musik, bukan menulis ulasannya). Oleh karena itu saya hanya akan membuat daftar lima album yang paling sering saya dengarkan, selama 2 minggu, 2 bulan atau mungkin 2 tahun terakhir. Daftar yang lain segera menyusul.

Read more »

Trout Mask Replica: Siaran Radio Rusak dari Antah Berantah

Posted in RS500 on November 15, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

troutmaskcover Saya pernah punya pekerjaan yang menurut saya paling tidak penting di antara pekerjaan yang ada, menjadi kritikus musik di sebuah koran di Jakarta. Pekerjaan ini tidak penting karena apapun yang anda katakan sebagai kritikus musik tentang betapa bermutu dan indahnya musik the Shins, atau betapa politisnya musik Dead Kennedys orang tetap akan lebih banyak membeli rekaman musik Britney Spears, My Chemical Romance atau Keane. Bahkan ketika anda menulis dengan banyak menyebut nama-nama besar seperti the Velvet Underground, Joy Division atau Frank Zappa (yang mungkin anda maksudkan sebagai upaya untuk menambah kredibilitas dan menunjukkan betapa luasnya wawasan anda sebagai kritikus musik) orang akan menuduh anda sebagai music snob yang sombong dan sok hebat dan secara sengaja mencela band semacam Coldplay atau Snow Patrol hanya untuk meninggikan selera pribadi. Atau menggunakan kata yang sempat populer di musim kampanye presiden Amerika Serikat beberapa bulan yang lalu, anda akan dituduh sebagai elitis.

Read more »

Cetak Biru Pink Floyd: Piper At the Gates of Dawn

Posted in RS500, progressive rock, psychedelic on October 18, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Kira kira di pertengahan film 24 Hour Party People, tokoh Tony Wilson—karakter nyata yang didasarkan pada kisah hidup produser, promotor dan pemilik klub Hacienda yang mempopulerkan kelompok Joy Division dan kemudian New Order dan segerombolan grup punk Inggris—merobek sebuah poster album Pink Floyd Dark Side of the Moon sewaktu Wilson menemukannya tertempel di dinding ruangan yang hendak dia beli dan dirubah menjadi the Hacienda. Menurut penafsiran saya tindakan Wilson itu—yang dimainkan dengan penuh kejenakaan oleh Steven Coogan—adalah perwujudan dari kemuakan generasi punk terhadap Pink Floyd, khususnya lagi album Dark Side of the Moon.

Bagi Wilson dan para punkers Dark Side, dengan kecenderungan berpanjang-panjang, orkestrasi, dan bunyi-bunyian aneh tanpa bentuk semacam musik pengantar tidur (atau pengantar mabuk) adalah kemapanan yang berbahaya dan harus di tolak. Selain juga karena Dark Side adalah album yang sangat laku. Di Inggris satu dari empat keluarga diperkirakan memiliki Dark Side, sedangkan di Amerika Serikat satu dari 14 laki laki dewasa diperkirakan memiliki kopi album ini. Masih di Amerika Serikat album ini masih laku di atas 90,000 kopi setiap minggu.

Read more »

Mengagumi Van Halen

Posted in RS500, rock, rock & roll hall of fame on October 12, 2008 by philipsvermonte

Boleh dibilang saya tumbuh bersama grup rock Van Halen. Ketika mulai mendapat uang saku mingguan saat duduk di bangku SMP, album baru Van Halen selalu setia saya beli. Yang pertama saya miliki adalah album berjudul 1984 (atau MCMLXXXIV). Album yang dirilis pada tahun sesuai dengan judulnya ini saya beli ketika saya duduk di kelas satu SMP di tahun 1985. Album inilah yang membuat saya jatuh cinta pada Van Halen. Penyuka musik rock mana yang tidak kenal lagu “Jump” (klik di sini untuk melihat klip nya),  “Panama” (klik di sini), “I’ll Wait”, dan “Hot for Teacher”? Semua lagu ini ada dalam album 1984. “Jump” bahkan begitu legendarisnya, hingga sekarang menjadi lagu rock klasik. Begitu juga dengan aksi lompatan di panggung oleh vokalis David Lee Roth dan gitaris Eddie Van Halen ketika mereka membawakan lagu ini, image-nya begitu tertanam dalam benak mereka penyuka musik rock yang besar di era tahun 1980-an.

Album 5150 keluar ketika saya duduk di kelas dua SMP di tahun 1986 Tentu saya tidak melewatkannya, tetapi lupa beli dimana. Entah di Aldiron Plaza di Blok M, Pasar Mayestik dekat sekolah, atau Aquarius Mahakam. Maklum, masa-masa itu harga kaset murah meriah, bajakan semua. Toko kaset bertebaran dimana-mana. Lagu-lagu album ini semacam “5150” (klik di sini untuk melihat klip-nya), “Why Can’t This Be Love”, “Love Walks In” di hari-hari itu tidak pernah ketinggalan saya putar pagi, siang, sore, malam.

Read more »

Berdamai dengan Jethro Tull (Akhirnya)

Posted in RS500, progressive rock on October 10, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Mungkin karena saya takut bahwa kredibiltas saya sebagai pemerhati musik indie dan punk (yang saya ciptakan dan hanya saya sendiri yang percaya dan peduli) akan jatuh, sampai beberapa hari yang lalu saya memilih untuk tidak peduli dan sengaja menghindar dari sebuah kelompok musik dari Inggris Jethro Tull. Bagi saya Jethro Tull sinonim dengan hal hal buruk yang berlebihan di musik rock.

Saya masih ingat ketika band indie (dulu favorit saya) the Decemberist mengeluarkan album baru mereka The Crane Wife, seorang kritikus di Pitchfork menulis dengan nada mengejek bahwa kecenderungan the Decemberist untuk berpanjang-panjang tanpa tujuan mengingatkan dia akan Jethro Tull. Walaupun secara keseluruhan the Crane Wife dapat ulasan bagus, sejak saat itu saya agak malas untuk peduli dengan the Decemberist—selain karena sejak saat itu banyak muncul band bagus selain mereka, seperti Fleet Foxes, Band of Horses dan Explosions in the Sky.

Read more »

Album Tanpa Nama Suicide

Posted in RS500, punk on September 22, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Beberapa hari terakhir saya mendapatkan terlalu banyak piringan hitam dan sangat sulit memutuskan mana terlebih dahulu yang akan saya tulis. Kemampuan membeli dan mengumpulkan saya jauh melebihi kemampuan saya untuk menulisnya. Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan piringan hitam dari dua band punk dari pantai barat Amerika, Fresh Fruit for Rotting Vegetables milik band punk ultra-kiri Dead Kennedys dan Wild Gift milik band punk-blues-rockabily X.

Tidak lama kemudian istri saya datang dari Minneapolis dan membawakan tiga piringan hita, yaitu One Nation Under A Groove dari band Parliament/Funkadelic, the Beach Boys Today! dari band the Beach Boys, serta album politis Randy Newman berjudul Sail Away. Beberapa hari kemudian saya kehabisan coin untuk mencuci di laundry otomatis. Saya pergi menukar uang di toko musik dekat rumah, dan terpaksa beli album Cat Stevens yang judulnya Tea for the Tillerman serta album Greatest Hits dari kelompok folk-pop dari Pantai Barat California, The Byrds, dengan harga yang ultra-murah juga.

Read more »

The Doors: Pintu-pintu Spiritualitas Jaman Modern

Posted in RS500, rock on September 16, 2008 by philipsvermonte

Oleh Rizal Shidiq

Menjelang bulan puasa, jalanan di sekitar Tanah Kusir atau Karet biasanya macet karena banyak orang melakukan ziarah kubur. Ritual ini masih menjadi institusi penting dalam kehidupan sosial Indonesia. Tidak percaya? Lihatlah ribuan rombongan pengajian masjid yang sengaja menyewa bis untuk berziarah ke makam Walisongo. Masih tidak percaya? Jutaan orang berjejalan di terminal dan stasiun berusaha mudik tiap tahun, salah satu tujuan penting mereka adalah untuk menengok makam keluarga. Kuburan juga menjadi salah satu tema yang paling banyak digarap dalam film-film Indonesia yang baru bangkit (dari kuburnya sendiri) itu. Belum lagi sinetron.

Dulu, dengan naif dan sedikit sebal, saya pikir ini hanya terjadi di masyarakat yang sebelah kakinya masih berpijak di dunia agraris di mana kekuatan gaib –sebagai jelmaan kekuatan alam– masih dianggap menentukan mati hidup seseorang. Ketika masyarakat mengalami proses modernisasi dan beranjak ke tradisi industri di mana rasionalitas menjadi raja, ritual semacam ziarah kubur itu tidak relevan lagi. Tapi bagaimana menerangkan bahwa di London sekalipun, orang masih berdatangan ke Highgate cemetery, menyambangi makam Karl Marx –yang jelas-jelas bahkan bilang agama itu candu dunia? Atau bagaimana misalnya di Paris, Le Cimetière du Père-Lachaise didatangi orang-orang dari seluruh dunia untuk ziarah ke makam Jim Morrison, vokalis kelompok The Doors.

Read more »

Master of Reality: Album Relijius (?) Black Sabbath

Posted in RS500, heavy metal, rock on September 12, 2008 by philipsvermonte

Oleh M. Taufiqurrahman

Tidak perlu menjadi pemuja setan untuk suka dengan Black Sabbath. Saya pikir ada persepsi yang salah terhadap band asal Birmingham ini. Hanya karena Ozzy Ozzbourne pernah menggigit kepala kelelawar sampai putus di atas panggung dan tuduhan (tidak berdasar) bahwa kalau diputar terbalik beberapa lagu Black Sabbath atau lagu dari album solo Ozzy akan muncul pesan pesan untuk bunuh diri, bukan berarti mereka pemuja setan atau anti agama. Malah sebaliknya bagi saya Black Sabbath adalah band yang sangat relijius. Coba anda putar lagi album ketiga Black Sabbath dari tahun 1971 Master of Reality (bagi yang punya piringan hitamnya anda lakukan lagi ritual seperti biasa). Inilah album yang berada pada nomor urut 298 dari 500 Greatest Albums of All Time versi majalah Rolling Stone.

Album ini hanya dirilis beberapa bulan setelah album paling laris mereka Paranoid. Bagi saya Master of Reality adalah album terberat dan terbaik Black Sabbath yang menggenapi tiga album trilogy terbaik Black Sabbath, Paranoid dan Master of Reality. Album ini, yang banyak ditulis oleh Ozzy dan gitaris Tony Iommi, sebenarnya afirmasi terhadap ketuhanan dan bahwa semua bentuk kejahatan adalah karena ketiadaan arti ketuhanan.

Read more »