Oleh Rizal Shidiq
Seingat saya, waktu itu saya masih ke sekolah dengan bercelana pendek biru, yang lumayan ketat, alias masih SMP. Saya baru senang-senangnya membaca majalah Hai yang jaman itu artikel-artikel musiknya masih layak baca. Karena majalah itulah, pada suatu sore saya naik bus kota ke sebuah toko kaset –saya masih ingat nama toko itu Leopard– untuk membeli kaset U2.
Di kota saya, susah mencari album U2. Apalagi saat itu kelompok itu belum terlalu terkenal. Satu-satunya tempat yang menjual kaset yang agak update dengan Jakarta dan majalah Hai, ya toko itu. Hari itu saya membawa pulang kaset U2. Saya lupa apakah saya beli dua kaset atau satu kaset tapi isinya dua album –waktu itu isi kaset bisa campur aduk, terserah perusahaan rekamannya. Tapi yang jelas, isinya lagu-lagu dari album Boy dan War –dan untuk dua minggu ke depannya saya tidak bisa lagi jajan.
